Transformasi Maharaksa Biru (OASA): Fokus Bisnis Baru dan Perombakan Manajemen

PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) menegaskan komitmennya terhadap sektor energi terbarukan melalui pengembangan fasilitas pengolahan limbah menjadi energi. Perusahaan ini tidak hanya mencatatkan peningkatan kinerja finansial yang kuat, tetapi juga melakukan restrukturisasi internal yang signifikan untuk mendukung strategi bisnis ke depan. Ini mencerminkan visi OASA untuk menjadi pemain kunci dalam transisi energi bersih di Indonesia, seiring dengan dukungan pemerintah terhadap inisiatif energi terbarukan.

Langkah strategis ini, yang mencakup kolaborasi internasional dan ekspansi domestik, menunjukkan ambisi OASA dalam menciptakan solusi berkelanjutan untuk masalah limbah perkotaan, sekaligus berkontribusi pada target energi nasional. Dengan adanya perubahan dalam struktur kepemimpinan, OASA berharap dapat mempercepat realisasi proyek-proyek penting dan mengoptimalkan potensi bisnis di bidang energi baru dan terbarukan.

Masa Depan Energi Bersih OASA: Limbah Menjadi Sumber Daya

PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) melalui anak perusahaannya, PT Indoplas Energi Hijau (IEH), memiliki rencana ambisius untuk membangun fasilitas pengolahan limbah menjadi energi listrik (PLTSa/PSEL) di Cipeucang, Tangerang Selatan. Proyek ini merupakan hasil kerja sama dengan perusahaan teknologi asal China, China Tianying Inc. (CNTY). CEO OASA, Bobby Gafur Umar, menegaskan bahwa fokus utama perusahaan adalah pada industri pengolahan limbah menjadi energi (Waste-to-Energy/WTE), melihat potensi pertumbuhan yang sangat besar di sektor ini. Optimisme ini didasari oleh proyeksi penguatan sektor energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia dalam 4-5 tahun mendatang, seiring dengan prioritas pemerintah untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik yang ramah lingkungan.

Visi OASA sejalan dengan arah kebijakan energi nasional yang tercermin dalam draf Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Draf tersebut menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik menjadi 69,5 GW, dengan 42,6 GW berasal dari EBT dan 10,3 GW dari penyimpanan energi. Target ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk mempercepat transformasi bauran energi, dengan 76% kapasitas baru akan berasal dari sumber EBT. Bobby Umar menjelaskan bahwa OASA juga aktif mencari peluang bisnis pengolahan limbah di daerah lain di Indonesia, tidak hanya untuk ekspansi bisnis tetapi juga untuk membantu pemerintah daerah dalam menata sistem pengelolaan limbah. Ia menekankan pentingnya adopsi teknologi modern dan ramah lingkungan dalam pengelolaan limbah di kota-kota besar.

Kinerja Finansial dan Perubahan Kepemimpinan

Selain fokus pada proyek-proyek energi bersih, OASA juga menunjukkan kinerja keuangan yang positif. Sepanjang tahun 2024, perusahaan berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 66,78 miliar, menunjukkan peningkatan signifikan sebesar Rp 22,62 miliar atau 51,24% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menjadi bukti efektivitas strategi perusahaan meskipun sedang dalam tahap investasi besar-besaran untuk proyek-proyek baru. Bobby Umar menyatakan bahwa fokus saat ini adalah pada tahap investasi, dengan harapan proyek-proyek yang sedang disiapkan akan memberikan kontribusi pendapatan yang signifikan di masa mendatang.

Struktur pendapatan OASA saat ini didominasi oleh jasa konstruksi, yang menyumbang 71,08% dari total pendapatan, diikuti oleh jasa konsultasi pengelolaan limbah sebesar 16,47%, dan penjualan barang sebesar 12,45%. Di sisi lain, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perusahaan, diumumkan adanya perubahan penting dalam jajaran direksi. Posisi Direktur Keuangan, yang sebelumnya dipegang oleh Bapak Cendy Hadiputranto, kini diemban oleh Ibu Soraya Inderasari. Perubahan ini telah disetujui oleh para pemegang saham, menandai babak baru dalam kepemimpinan finansial OASA untuk mendukung pertumbuhan dan ekspansi bisnisnya di sektor energi terbarukan.