Terobosan Strategis SOLA dalam Membangun Infrastruktur Jalan dan Rantai Pasok Batubara Nasional

PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) kini menancapkan dominasinya dalam memperkokoh jaringan jalan nasional dan mengoptimalkan distribusi pasokan batubara. Melalui entitas anak, PT Modifikasi Bitumen Sumatera (MBS), perusahaan ini menjadi pionir dalam produksi aspal modifikasi berteknologi canggih di Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya mengedepankan inovasi, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan penciptaan nilai tambah. Optimisme membumbung tinggi, seiring dengan target pendapatan tahun 2025 yang menjanjikan, didukung oleh beragam kontrak proyek dan rencana ekspansi bisnis ke sektor energi bersih.

Rincian Pengembangan Infrastruktur dan Rantai Pasok

Pada hari Kamis, 21 Agustus 2025, dalam acara Closing Bell CNBC Indonesia, terungkap bahwa PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) bersama anak perusahaannya, PT Modifikasi Bitumen Sumatera (MBS), sedang gencar memperkuat infrastruktur jalan dan rantai pasok batubara di seluruh wilayah Indonesia. PT MBS, yang beroperasi sebagai pelopor di bidang aspal modifikasi, memiliki peran krusial dalam mengamankan proyek-proyek pembangunan jalan dari Lampung hingga Aceh.

Pabrik canggih PT MBS bertugas mengolah bahan baku aspal menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti aspal karet berbahan dasar karet alam, aspal polimer, dan aspal emulsi dengan beragam spesifikasi. Imam Buchairi, Direktur Utama PT MBS, menyoroti keunggulan aspal PG76, yang diformulasikan khusus untuk meningkatkan ketahanan terhadap suhu ekstrem, menjadikannya ideal untuk jalan tambang yang menanggung beban hingga 100 ton, jauh melebihi batas rata-rata jalan nasional yang hanya 30 ton.

Pada tahun 2025, PT MBS telah mengamankan kontrak suplai aspal emulsi sebanyak 3.800 metrik ton ke Riau. Aspal emulsi dan polimer PG76 ini akan digunakan oleh PT Aplikasi Bitumen Indonesia (PT ABI) untuk konstruksi jalan double chipseal pada jalur pengangkutan batubara. Mochamad Bhadaiwi, Direktur Utama SOLA, menjelaskan bahwa konstruksi double chipseal, yang menggunakan aspal polimer dari PT MBS, dirancang untuk meningkatkan hambatan slip permukaan jalan dan mengurangi debu, sehingga meningkatkan keselamatan dan efisiensi.

PT ABI menjadi kontributor pendapatan utama bagi SOLA, menyumbang sekitar 60%-70% pendapatan pada tahun ini. Selain itu, SOLA juga berhasil mendapatkan kontrak pembangunan Wisma Titan di area jalur pengangkutan batubara dua bulan sebelumnya. Komitmen SOLA terhadap infrastruktur hijau tercermin melalui penggunaan aspal emulsi oleh PT ABI, yang lebih hemat energi dibandingkan aspal hot mix, menjadikannya pilihan yang lebih ramah lingkungan. Produk aspal inovatif ini telah diterapkan dalam berbagai proyek nasional di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, memenuhi standar kualitas Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum. Aspal yang diproses di Muara Enim kini berperan penting dalam jaringan distribusi batubara, kawasan industri, dan jalan nasional.

Julkarnain Roi, Direktur PT Servo Lintas Raya, menegaskan bahwa bisnis perusahaannya berfokus pada sektor logistik, termasuk pengangkutan batubara dari hulu ke hilir. Jalan sepanjang 118 kilometer dengan konstruksi chipseal yang mereka miliki memberikan keuntungan signifikan, terutama dalam melindungi permukaan jalan dari kerusakan akibat air hujan dan cuaca ekstrem.

Dengan inovasi di bidang aspal dan berbagai kontrak yang telah diperoleh, PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) sangat optimis dapat mencapai target pendapatan sebesar Rp 196,8 miliar pada tahun 2025. Optimisme ini semakin diperkuat dengan rencana diversifikasi bisnis SOLA ke teknologi lingkungan dan energi bersih, termasuk pengembangan proyek Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) bersama perusahaan dari Amerika Serikat, yang bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dari industri besar dan pembangkit listrik batubara.

Refleksi dan Prospek Cerah di Masa Depan

Dari perspektif seorang pengamat industri, langkah-langkah strategis yang diambil oleh SOLA menunjukkan visi jauh ke depan dalam menghadapi tantangan infrastruktur dan keberlanjutan. Investasi pada aspal modifikasi dan komitmen terhadap "green infrastructure" bukan hanya memperkuat posisi mereka di pasar, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang lebih bertanggung jawab. Ini adalah contoh bagaimana inovasi dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan, sekaligus memikul tanggung jawab terhadap lingkungan. Potensi diversifikasi ke energi bersih, seperti proyek CCUS, semakin menegaskan posisi SOLA sebagai pemain kunci yang tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga pada masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi Indonesia.