Gubernur BI Mendorong Pembelian Obligasi Pemerintah RI Menggunakan Rekening Yen Jepang

Laporan ini membahas upaya Bank Indonesia (BI) dalam memperluas kerja sama penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dengan Jepang, khususnya dalam memfasilitasi pembelian obligasi pemerintah Indonesia oleh investor Jepang menggunakan mata uang Yen. Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi dominasi Dolar AS dalam transaksi internasional dan memperkuat stabilitas ekonomi kedua negara.

Jembatan Finansial Baru: Yen Jepang untuk Obligasi Indonesia!

Memperkuat Kemitraan Ekonomi Melalui Transaksi Mata Uang Lokal

Indonesia dan Jepang sedang merangkul era baru dalam hubungan keuangan mereka, dengan fokus pada perluasan penggunaan mata uang lokal untuk transaksi lintas negara. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS dan meningkatkan efisiensi ekonomi antara kedua negara.

Visi Gubernur BI: Obligasi Pemerintah Tersedia dalam Yen

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, secara aktif mendorong agar investor Jepang dapat membeli obligasi ritel pemerintah Indonesia secara langsung menggunakan rekening Yen. Beliau menantang lembaga keuangan dan industri pembayaran untuk segera mewujudkan konektivitas ini, termasuk untuk instrumen keuangan seperti Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI).

Revolusi Digital dalam Pasar Obligasi dan Transaksi Lintas Batas

Gubernur Perry menekankan bahwa inisiatif ini akan melibatkan pembelian obligasi secara digital, yang sejalan dengan penguatan konektivitas pembayaran lintas batas seperti QRIS. Hal ini menandai babak baru dalam kolaborasi mata uang lokal yang terintegrasi dengan sistem pembayaran digital, membuka peluang baru untuk perdagangan, investasi langsung asing, dan pengembangan UMKM, serta memperdalam pasar keuangan domestik.

Manfaat Bersama: Mengurangi Beban Biaya dan Volatilitas

Melalui perluasan mekanisme LCT ke pasar obligasi, kedua negara akan memperoleh keuntungan signifikan dengan menghindari biaya konversi mata uang ke Dolar AS. Bagi investor Jepang, ini menjanjikan potensi pendapatan yang lebih tinggi dari investasi pada obligasi pemerintah, sukuk, ekuitas, dan sekuritas Indonesia lainnya, sembari memperkuat kerangka LCT dan meningkatkan efisiensi transaksi.

Stabilitas Rupiah dan Ketahanan Finansial

Inisiatif ini diharapkan dapat mengurangi volatilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, memperkuat ketahanan finansial Indonesia, dan memberikan penghematan biaya yang substansial. Ini juga merupakan strategi penting untuk manajemen risiko dan diversifikasi mata uang, serta mendorong pendalaman pasar keuangan.

Sambutan Positif dari Jepang

Ueda Hajime, Perwakilan Duta Besar Jepang untuk Indonesia, menyambut baik inisiatif ini, yang ia sebut sebagai 'babak baru' dalam hubungan bilateral. Sejak Agustus 2020, kerja sama LCT antara Rupiah dan Yen telah berlangsung, dan perluasan ini diharapkan dapat menurunkan biaya valuta asing, yang pada gilirannya akan memacu aktivitas bisnis, perdagangan bilateral, dan investasi langsung antara Indonesia dan Jepang.