
Nilai tukar mata uang rupiah menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat, memicu kekhawatiran di kalangan pasar finansial. Kondisi ini secara langsung terkait dengan situasi sosial dan politik yang memanas di tanah air. Insiden demonstrasi yang berujung pada tragedi semakin memperkeruh suasana, menyebabkan investor menarik modalnya dan menekan nilai rupiah lebih dalam. Peristiwa ini menjadi cerminan betapa eratnya hubungan antara stabilitas ekonomi dan iklim sosial-politik suatu negara.
Rupiah Terkapar di Tengah Badai Ketidakpastian: Sebuah Analisis Mendalam
Pada hari Jumat yang penuh gejolak, 29 Agustus 2025, pasar finansial Indonesia dikejutkan oleh kabar anjloknya nilai tukar rupiah. Menurut laporan dari Refinitiv, mata uang Garuda ini terdepresiasi sebesar 0,86%, mencapai titik krusial Rp16.455 per dolar AS. Penurunan tajam ini tidak lepas dari peningkatan sentimen negatif di kalangan pelaku pasar, yang sebagian besar dipicu oleh ketidakstabilan di dalam negeri.
Pusaran pelemahan rupiah ini berakar pada meningkatnya tensi politik dan sosial di penjuru Tanah Air. Ibu kota Jakarta menjadi saksi bisu gelombang demonstrasi yang tak henti-hentinya, kali ini dipelopori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). Fokus utama aksi protes ini menyasar Markas Besar Kepolisian Daerah Metro Jaya, dengan gaung demonstrasi yang juga merambah kantor-kantor kepolisian di berbagai daerah lainnya di Indonesia.
Melalui akun media sosial resminya, BEM SI dengan tegas menyatakan bahwa aksi turun ke jalan kali ini adalah bentuk protes keras terhadap tindakan represif aparat dalam menghadapi demonstrasi yang berlangsung sehari sebelumnya, Kamis, 28 Agustus 2025. “Hari ini kita turun ke jalan bukan hanya menolak kebijakan yang merugikan rakyat, tapi juga menolak wajah anarko aparat,” demikian bunyi pernyataan BEM SI, menunjukkan betapa dalamnya kekecewaan mereka.
Tragisnya, demonstrasi pada Kamis itu menelan korban jiwa. Seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan, mitra pengemudi Gojek, meninggal dunia setelah terlindas mobil taktis Brimob di kawasan Pejompongan. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) telah mengonfirmasi identitas Affan dan menyampaikan dukacita mendalam serta simpati tulus kepada keluarga korban dan seluruh mitra pengemudi Gojek yang turut merasakan kehilangan ini.
Insiden memilukan ini, yang secara langsung memicu gelombang demonstrasi baru yang lebih besar, telah memperburuk kekhawatiran investor mengenai stabilitas sosial-politik di Indonesia. Konsekuensinya, arus modal keluar (capital outflow) semakin deras mengalir, memberikan tekanan luar biasa pada rupiah, yang kini semakin terpuruk di hadapan dominasi dolar AS.
Refleksi dan Harapan di Tengah Tantangan Ekonomi dan Sosial
Sebagai seorang pengamat, saya merasa terpanggil untuk merenungkan dampak mendalam dari gejolak sosial dan politik ini terhadap perekonomian, khususnya nilai tukar rupiah. Peristiwa ini dengan jelas menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya bergantung pada fundamental makro, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh iklim sosial dan kepercayaan publik. Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan adalah pengingat pahit akan betapa rapuhnya situasi ketika komunikasi antara pemerintah dan rakyat terputus, dan solusi non-kekerasan gagal diimplementasikan. Sangat penting bagi semua pihak, terutama para pembuat kebijakan, untuk segera mencari jalan keluar dari kebuntuan ini. Dialog konstruktif, penegakan hukum yang adil, dan respons empati terhadap aspirasi masyarakat adalah kunci untuk memulihkan kepercayaan, meredakan ketegangan, dan pada akhirnya, menstabilkan kembali ekonomi bangsa. Hanya dengan kebersamaan dan kebijaksanaan, Indonesia dapat melangkah maju mengatasi badai ini dan membangun fondasi yang lebih kokoh untuk masa depan yang lebih cerah.
