
Artikel ini mengungkapkan pandangan mendalam dari pakar keuangan terkenal, Robert Kiyosaki, mengenai konsep kekayaan. Menurut Kiyosaki, dedikasi dan penghasilan yang substansial bukanlah jaminan mutlak untuk kemapanan finansial jangka panjang. Sebaliknya, pengetahuan tentang cara mengelola dana menjadi fondasi krusial bagi kesejahteraan sejati. Penulis menjelaskan bagaimana banyak individu dengan pendapatan signifikan, seperti para atlet profesional atau pemenang lotre, dapat kehilangan harta mereka jika tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang literasi finansial. Oleh karena itu, edukasi mengenai manajemen uang, serta mencari bimbingan dari para ahli, dianggap esensial untuk mencapai stabilitas ekonomi yang berkelanjutan.
Detail Berita Eksklusif: Perspektif Finansial Robert Kiyosaki
Pada hari Selasa yang cerah, tanggal 26 Agustus 2025, dari pusat hiruk pikuk Jakarta, CNBC Indonesia melaporkan pandangan revolusioner dari penasihat keuangan terkemuka, Robert Kiyosaki. Dalam sebuah pernyataan yang dibagikan melalui akun X miliknya, Kiyosaki menyoroti sebuah realitas finansial yang sering diabaikan: kerja keras semata tidak menjamin kemakmuran abadi. Ia mengilustrasikan ini dengan contoh seorang pelayan di Amerika yang, meskipun berpenghasilan sekitar US$ 35.000 per tahun selama lima dekade — totalnya mencapai US$ 1,75 juta — masih bisa menghadapi kesulitan finansial di usia senja, bahkan meninggal dalam kemiskinan. Menurut Kiyosaki, masalah mendasar terletak pada kurangnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan, sebuah keahlian yang jarang diajarkan di institusi pendidikan formal.
Kiyosaki menegaskan bahwa pendidikan finansial yang buruk, yang mungkin berakar dari didikan orang tua yang kurang beruntung atau guru-guru yang berpendidikan tinggi namun minim pengalaman praktis dalam kekayaan, adalah penyebab utama. Ia sangat menganjurkan untuk mencari bimbingan dari para individu yang telah mencapai kesuksesan finansial dan memiliki pemahaman mendalam tentang dunia uang. Kiyosaki membandingkan ini dengan pengalaman pribadinya saat belajar dari “ayah kaya”-nya, seorang mentor yang menularkan kebijaksanaan sejati tentang uang, tantangan, bisnis yang digerakkan oleh misi, dan kewirausahaan yang sukses.
Lebih lanjut, Kiyosaki juga memaparkan paradoks bahwa memiliki banyak uang, bahkan jutaan dolar, justru dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kemiskinan jika tidak disertai dengan manajemen yang tepat. Fenomena ini, menurutnya, terlihat pada banyak atlet kampus yang beralih ke liga profesional dengan gaji jutaan dolar, namun 65% dari mereka dilaporkan bangkrut hanya tujuh tahun setelah pensiun. Demikian pula, pemenang lotre seringkali mengalami nasib serupa; kekayaan mendadak justru menyebabkan kemunduran finansial karena ketiadaan literasi dalam mengelola aset besar. Jadi, inti pesannya adalah, kekayaan sejati bukan hanya tentang jumlah uang yang dimiliki, melainkan tentang kecakapan dalam mengelolanya.
Berita ini memberikan sudut pandang yang sangat relevan dan mendalam tentang esensi kekayaan. Sebagai seorang jurnalis, saya merasa terinspirasi untuk terus menggali topik literasi finansial. Banyak orang berpikir bahwa semakin banyak uang yang mereka hasilkan, semakin kaya mereka. Namun, Kiyosaki dengan cemerlang menunjukkan bahwa persepsi ini sangat keliru. Kekayaan sejati adalah buah dari pengetahuan dan disiplin dalam mengelola apa yang kita miliki, bukan semata-mata besarnya pendapatan. Pesan ini harus disebarkan luas, karena tanpa pemahaman yang benar tentang uang, siklus kemiskinan bisa terus berlanjut bahkan di tengah gelimang harta. Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk lebih proaktif dalam mendidik diri sendiri dan orang lain tentang manajemen keuangan yang cerdas, agar kita dapat membangun masa depan finansial yang lebih stabil dan sejahtera.
