
Pasar saham Tiongkok menunjukkan lonjakan yang mengesankan sepanjang tahun ini, terutama Indeks Komposit Shanghai yang berhasil menyentuh level tertinggi dalam satu dekade. Kenaikan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat bursa domestik Tiongkok sebelumnya seringkali kurang menarik dibandingkan pasar luar negeri seperti Amerika atau Jepang. Namun, dibalik gemerlap angka-angka tersebut, terdapat realitas ekonomi yang lebih kompleks dan rapuh, di mana berbagai sektor industri inti menghadapi tantangan serius akibat kelebihan kapasitas dan persaingan yang intens. Ini menciptakan dikotomi yang mencolok antara kinerja pasar keuangan dan kondisi fundamental ekonomi.
Pemerintah Tiongkok telah berupaya keras untuk menjaga optimisme di tengah ketidakpastian ini. Berbagai kebijakan stimulus, termasuk pelonggaran aturan pembelian properti dan kampanye untuk mengurangi produksi berlebih, telah diluncurkan. Upaya ini juga dilengkapi dengan promosi keberhasilan teknologi dan budaya sebagai simbol kepercayaan diri nasional. Namun, pertanyaan besar yang muncul adalah seberapa lama reli pasar saham ini dapat bertahan tanpa didukung oleh fondasi ekonomi yang kuat. Para analis mengingatkan bahwa cepat atau lambat, pasar akan kembali dihadapkan pada realitas ekonomi yang mungkin tidak seindah pergerakan indeks saham saat ini.
Kenaikan Pasar Saham yang Mencengangkan
Bagi sebagian besar investor, bursa saham Tiongkok kerap dipandang sebelah mata, dengan preferensi pada pasar yang lebih mapan di luar negeri seperti Amerika Serikat atau Jepang. Namun, tahun ini menyajikan narasi yang berbeda secara signifikan. Indeks Komposit Shanghai, yang menjadi barometer utama kesehatan pasar saham Tiongkok, telah menunjukkan performa yang sangat impresif, melesat naik hingga mencatat rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir pada tanggal 25 Agustus. Kinerja luar biasa ini tidak hanya membalikkan persepsi lama mengenai pasar Tiongkok, tetapi juga berhasil mengungguli indeks-indeks global terkemuka lainnya, termasuk S&P 500, sejak awal tahun. Pencapaian ini menandai sebuah titik balik penting setelah periode panjang di mana pasar saham Tiongkok seringkali tertinggal dan menunjukkan performa yang kurang memuaskan. Ini merupakan fenomena yang menarik perhatian banyak pihak, memicu diskusi tentang faktor-faktor pendorong di balik pertumbuhan eksplosif tersebut.
Lonjakan drastis pada pasar saham Tiongkok menandai sebuah perubahan paradigma yang menarik. Selama bertahun-tahun, investor domestik seringkali mencari peluang investasi di luar negeri, menganggap pasar dalam negeri kurang prospektif. Namun, dengan kenaikan 36% yang dicatat oleh Indeks Komposit Shanghai sejak awal tahun 2025, sentimen tersebut mulai bergeser. Kinerja ini tidak hanya melampaui ekspektasi banyak pihak, tetapi juga menempatkan pasar saham Tiongkok di garis depan kinerja global. Pergerakan positif ini memicu gelombang optimisme baru di kalangan investor lokal, dengan rumah tangga mulai mengalihkan tabungan mereka ke saham. Perusahaan-perusahaan besar dan lembaga asuransi juga turut serta dalam euforia ini, meningkatkan pembelian saham hingga ratusan miliar yuan. Ini mencerminkan kepercayaan yang tumbuh terhadap potensi keuntungan di pasar domestik, meskipun ada kekhawatiran yang mendasari mengenai keberlanjutan tren ini tanpa dukungan fundamental ekonomi yang kokoh.
Kerentanan Ekonomi di Balik Gemerlap Bursa
Meskipun pasar saham Tiongkok menunjukkan performa yang mengagumkan, kontradiksi mencolok muncul dari kondisi ekonomi domestik yang justru menunjukkan tanda-tanda kerapuhan. Tiongkok menghadapi tantangan serius berupa kelebihan kapasitas produksi di berbagai sektor, yang pada gilirannya memicu persaingan tidak sehat dan menekan margin keuntungan. Industri-industri yang sebelumnya menjadi kebanggaan nasional, seperti kendaraan listrik dan panel surya, kini berjuang keras menghadapi kelebihan pasokan. Sebagai contoh, produsen kendaraan listrik terbesar Tiongkok, BYD, dilaporkan kesulitan dalam melunasi pembayaran kepada pemasok, sementara beberapa perusahaan energi surya mengalami kerugian besar. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada pertumbuhan di pasar saham, fondasi ekonomi riil mungkin tidak sekuat yang digambarkan oleh angka-angka bursa.
Situasi paradoks ini semakin diperparah oleh data ekonomi resmi yang dirilis pemerintah, yang justru melukiskan gambaran yang kontras dengan euforia pasar saham. Laporan pada 15 Agustus menunjukkan penurunan konsumsi, produksi industri, dan investasi aset tetap yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Ironisnya, pada hari yang sama, Indeks Komposit Shanghai justru naik 1%, mempertegas adanya disonansi antara pasar keuangan dan ekonomi riil. Selain itu, kinerja perusahaan yang terdaftar di bursa juga mengalami kemunduran, dengan lebih dari 22% perusahaan melaporkan kerugian pada semester pertama 2025—angka tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pergerakan pasar saham tampaknya 'terlepas dari kenyataan', seperti yang diungkapkan oleh beberapa analis. Bahkan, regulator dikabarkan telah mengimbau media untuk tidak terlalu sering menggunakan istilah 'bull market' di media sosial, menunjukkan kekhawatiran terhadap potensi gelembung spekulatif yang tidak sehat.
