
Gejolak melanda pasar Asia-Pasifik hari Selasa, dengan sebagian besar indeks mengalami penurunan sebagai respons terhadap perkembangan politik di Amerika Serikat. Komentar provokatif dari Presiden AS Donald Trump, terutama terkait dengan Tiongkok dan Federal Reserve, memicu kekhawatiran di kalangan investor. Keputusan mengejutkan Trump untuk memberhentikan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook, yang disebut sebagai tindakan tanpa preseden, menambah ketidakpastian. Di samping itu, ancaman tarif 200% terhadap ekspor magnet tanah jarang Tiongkok semakin memperkeruh suasana, yang secara kolektif menyebabkan pasar regional bereaksi negatif, meskipun beberapa sektor di Tiongkok mampu mempertahankan momentum positifnya.
Pada hari Selasa, sentimen pasar di Asia-Pasifik didominasi oleh kekhawatiran yang berasal dari Washington. Pasar saham Wall Street pada sesi sebelumnya telah menunjukkan tren penurunan, dan ketidakpastian ini merembet ke bursa-bursa di Asia. Para investor dengan cermat mengikuti setiap pernyataan Presiden Trump, yang dikenal dengan retorikanya yang kuat dan sering kali tidak terduga.
Salah satu pemicu utama kegelisahan pasar adalah berita pemecatan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook. Tindakan ini, yang diambil oleh Trump pada hari Senin malam di AS, menjadi sorotan karena dianggap melanggar norma dan kemungkinan akan memicu perdebatan hukum. Trump beralasan pemecatan Cook didasarkan pada Pasal II Konstitusi AS dan Federal Reserve Act 1913, menuduh Cook melakukan penipuan hipotek. Namun, undang-undang Federal Reserve membatasi kewenangan presiden untuk memberhentikan gubernur hanya dengan alasan yang kuat, biasanya terkait dengan pelanggaran serius, bukan perbedaan kebijakan.
Dampak dari kebijakan dan pernyataan Trump terlihat jelas di berbagai indeks pasar regional. Indeks Kospi Korea Selatan mengalami penurunan 0,46% pada pembukaan, meskipun Kosdaq, indeks untuk perusahaan berkapitalisasi kecil, berhasil mencatatkan kenaikan 0,55%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 anjlok 1,21%, dan indeks Topix yang lebih luas juga menunjukkan penurunan sebesar 1,05%. Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia turun 0,31%, mencerminkan sentimen negatif yang meluas di seluruh kawasan. Kontrak berjangka untuk indeks Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan potensi pembukaan yang lebih lemah, di angka 25.711, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di 25.829,91.
Meskipun pasar global bergejolak, saham-saham di Republik Rakyat Tiongkok menunjukkan ketahanan yang menarik. Indeks CSI 300 Tiongkok berhasil mempertahankan kenaikannya untuk sesi keempat berturut-turut, melonjak lebih dari 2% pada hari Senin. Selain itu, Nasdaq Golden Dragon China Index, yang mencakup saham-saham Tiongkok yang terdaftar di bursa AS, mengakhiri sesi Senin dengan penguatan, bahkan ketika indeks utama Wall Street mengalami penurunan. Ketahanan ini menunjukkan dinamika yang kompleks dalam hubungan ekonomi antara AS dan Tiongkok, di mana meskipun ada ancaman tarif, beberapa sektor Tiongkok tetap menarik bagi investor.
Situasi ini menggambarkan bagaimana keputusan politik di satu negara adidaya dapat menciptakan efek domino di pasar keuangan global. Pemecatan pejabat tinggi di bank sentral AS dan ancaman sanksi perdagangan terhadap Tiongkok tidak hanya menciptakan ketidakpastian, tetapi juga memaksa investor untuk mengevaluasi kembali strategi mereka di tengah volatilitas yang meningkat. Kondisi ini menekankan pentingnya stabilitas politik dan kebijakan yang dapat diprediksi untuk menjaga kepercayaan di pasar global.
