IHSG Merosot Tajam di Tengah Kekacauan Nasional: Analisis Penurunan Pasar Saham dan Dampaknya

Pada awal September 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mencatat kemerosotan signifikan. Indeks ini anjlok 1,21%, atau setara dengan 94,42 poin, mengakhiri hari perdagangan di level 7.736,07. Penurunan ini merupakan refleksi dari sentimen pasar yang tengah tidak stabil, ditandai dengan mayoritas saham yang mengalami koreksi, sementara hanya segelintir sektor yang mampu mempertahankan kenaikan. Nilai transaksi yang substansial, mencapai triliunan rupiah, menggambarkan volume aktivitas yang tinggi namun dengan dominasi aksi jual.

Pergerakan pasar yang negatif ini secara langsung diakibatkan oleh beberapa faktor pemicu. Salah satu penyebab utamanya adalah gejolak besar yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, memicu kekhawatiran di kalangan investor. Lebih lanjut, sektor teknologi menjadi penekan utama dengan penurunan tajam sebesar 3,08%, diikuti oleh sektor keuangan yang juga tertekan. Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya dari sektor perbankan dan teknologi, turut berkontribusi besar terhadap pelemahan IHSG.

Dalam menghadapi situasi ini, para pemangku kepentingan pasar memberikan tanggapan. Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi, mengimbau para investor untuk membuat keputusan yang didasari oleh fakta dan data, bukan sekadar rumor. Dia menegaskan keyakinannya terhadap prospek pasar Indonesia di masa mendatang. OJK juga menegaskan kembali kebijakan buyback saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sebuah langkah yang sebelumnya diambil saat IHSG mengalami tekanan.

Dari perspektif Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Utamanya, Iman Rachman, menjelaskan bahwa dinamika pasar saham dipengaruhi oleh dua kekuatan utama: fundamental ekonomi dan persepsi investor. Ia mengakui bahwa saat ini, persepsi negatif dari investor, terutama investor asing, sedang mendominasi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia dianggap masih solid dan menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Sejarah pasar saham Indonesia mencatat beberapa periode kritis yang menyebabkan penurunan drastis pada IHSG. Misalnya, pada Januari 1998, indeks ini mengalami kejatuhan paling parah sebesar 11,95% dalam sehari, seiring dengan krisis mata uang rupiah yang anjlok terhadap dolar AS. Kemudian, pada Oktober 2008, krisis keuangan global menyeret IHSG turun 10,37%. Yang paling terkini, pada April 2025, IHSG merosot 7,9% sebagai respons terhadap kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden AS kala itu. Kejadian-kejadian ini menunjukkan kerentanan pasar terhadap faktor-faktor eksternal dan internal yang dapat memicu ketidakpastian.

Kemerosotan IHSG pada 1 September 2025 ini merupakan cerminan kompleks dari kondisi domestik dan sentimen global yang memengaruhi keyakinan investor. Pasar kini berada dalam fase penyesuaian, di mana pelaku pasar mengamati perkembangan situasi sambil menunggu tanda-tanda pemulihan. Penting bagi investor untuk tetap tenang dan mengambil langkah strategis yang didasari analisis mendalam, sejalan dengan imbauan dari otoritas terkait, guna menavigasi volatilitas yang ada.