
Dalam laporan terbarunya, DBS Group Research memberikan gambaran menyeluruh tentang prospek ekonomi Indonesia untuk kuartal ketiga tahun 2025. Analisis ini muncul setelah Bank Indonesia mengambil langkah proaktif dengan menurunkan suku bunga acuan, menandai konsistensi dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global yang terus berkembang. Laporan tersebut menyoroti faktor-faktor kunci yang mempengaruhi stabilitas makroekonomi domestik, mulai dari kebijakan moneter lokal hingga dinamika ekonomi global, serta memberikan panduan strategis bagi para pelaku pasar.
Detail Laporan Analisis Ekonomi
Pada tanggal 25 Agustus 2025, DBS Group Research mengeluarkan proyeksi ekonomi untuk triwulan ketiga, bertepatan dengan keputusan Bank Indonesia (BI) yang memangkas suku bunga acuan menjadi 5%. Penurunan sebesar 25 basis poin ini merupakan yang kedua kalinya secara beruntun, selaras dengan ekspektasi DBS akan adanya ruang kebijakan moneter yang akomodatif. Radhika Rao, Ekonom Senior DBS Bank, menyatakan bahwa indikator aktivitas ekonomi mengisyaratkan perlambatan pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini, diperparah oleh tantangan perdagangan global. Meskipun demikian, keputusan BI untuk menjaga kebijakan yang mendukung pertumbuhan diambil di tengah inflasi yang terkendali dan stabilitas rupiah yang terjaga.
Lebih lanjut, analisis DBS Group Research juga mengupas kondisi ekonomi makro, baik domestik maupun internasional. Ekonomi Amerika Serikat menghadapi beragam risiko, termasuk inflasi yang persisten, dampak tarif perdagangan, pengetatan kebijakan imigrasi, serta tekanan politik terhadap Federal Reserve (The Fed). Diperkirakan, pertumbuhan ekonomi AS akan melambat pada paruh kedua tahun 2025, dengan The Fed diproyeksikan akan menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada semester kedua 2025, dan kemungkinan pemangkasan tambahan 50 basis poin pada tahun 2026.
Meskipun ekspor tekstil, furnitur, dan alas kaki Indonesia sebagian besar ditujukan ke pasar AS, dampak tarif AS terhadap Indonesia diperkirakan terbatas dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Beberapa faktor pendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia meliputi meredanya inflasi yang memberi fleksibilitas kebijakan moneter, peningkatan belanja kesejahteraan dan pemerintah yang mendorong konsumsi domestik, serta aliran investasi asing langsung (FDI) yang positif, mencerminkan kepercayaan investor internasional.
Radhika menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang lebih menguntungkan dalam menghadapi gelombang tarif baru dari AS, didukung oleh struktur ekonomi yang beragam. DBS Group Research juga menggarisbawahi pentingnya negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan mitra strategis, penghapusan hambatan tarif untuk produk Indonesia di pasar AS, dukungan kebijakan domestik yang kuat, dan pengelolaan valuta asing yang komprehensif. Indonesia didorong untuk memanfaatkan pergeseran arus perdagangan global guna mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika internasional.
Inflasi di Indonesia diperkirakan tetap dalam kisaran target Bank Indonesia sepanjang tahun 2025 dan 2026. Bank Indonesia kemungkinan akan menyesuaikan kebijakan moneternya secara bertahap, dengan mempertimbangkan nilai tukar rupiah, arah suku bunga The Fed, dan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5%. Meskipun defisit fiskal masih relatif tinggi, DBS Group Research optimis defisit tersebut akan tetap di bawah 3% dari PDB. Untuk tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,4% secara tahunan, didukung oleh perbaikan penerimaan negara.
Dengan The Fed yang juga diperkirakan akan melonggarkan kebijakan moneter, Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan sikap dovish pada kuartal IV 2025, mendorong transmisi penuh pemangkasan suku bunga yang telah dilakukan sepanjang tahun. Imbal hasil obligasi Indonesia mulai menurun seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga, didukung permintaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan minat investor terhadap instrumen berimbal hasil tinggi. Pergerakan ini menunjukkan respons positif pasar obligasi terhadap kebijakan moneter akomodatif dan likuiditas yang memadai.
Maynard Arif, Spesialis Ekuitas DBS Group Research, menambahkan bahwa pasar saham Indonesia menunjukkan rotasi menarik ke saham-saham berkapitalisasi besar berkualitas tinggi yang lebih tahan terhadap volatilitas global. Meskipun indeks LQ45 dan IDX30 berkinerja di bawah rata-rata hingga Juli 2025, valuasi pasar saat ini tetap menarik dibandingkan negara Asia lainnya. Aliran modal asing (FDI) yang sempat mereda diperkirakan kembali mengalir pada paruh kedua tahun ini, didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga dan stabilisasi rupiah. Namun, investor tetap diimbau waspada terhadap volatilitas jangka pendek akibat dinamika kebijakan moneter global dan risiko geopolitik.
Pergerakan USD/IDR menunjukkan koreksi signifikan dalam dua bulan terakhir setelah mencapai puncak, selaras dengan perkembangan pasar global dan sentimen terhadap kebijakan moneter AS. DBS Group Research memproyeksikan konsolidasi USD/IDR dalam jangka pendek, mencerminkan stabilisasi pasar dan adaptasi terhadap ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed serta kondisi ekonomi domestik Indonesia.
Untuk mendukung investor dan pelaku pasar menghadapi ketidakpastian ekonomi global, DBS Global Financial Markets menawarkan solusi keuangan adaptif dan terintegrasi. Melalui analisis pasar mendalam, layanan konsultasi investasi, dan akses ke instrumen keuangan global, GFM membantu klien mengelola risiko fluktuasi suku bunga, nilai tukar, dan tarif perdagangan, mendukung strategi investasi yang terinformasi dan berkelanjutan.
Muchammad Suryanatakusumah, Direktur Eksekutif & Kepala Penjualan Global Financial Markets PT Bank DBS Indonesia, menyatakan, \"Pergerakan USD/IDR saat ini mencerminkan dinamika pasar global yang kompleks dan respons investor terhadap kebijakan moneter AS. Melalui strategi yang tepat, nasabah dapat lebih siap menghadapi volatilitas dan memanfaatkan peluang yang muncul.\"
Laporan DBS Group Research memberikan optimisme yang hati-hati bagi ekonomi Indonesia. Dengan kebijakan moneter yang adaptif dan ketahanan ekonomi yang kuat, Indonesia memiliki potensi besar untuk menavigasi tantangan global dan memanfaatkan peluang pertumbuhan. Namun, dinamika pasar global yang kompleks tetap menuntut kehati-hatian dan strategi investasi yang terencana.
