Investor Asing Akumulasi Saham di Tengah Pelemahan IHSG

Pada periode perdagangan 19-22 Agustus 2025, pasar saham Indonesia, yang diwakili oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mengalami pelemahan signifikan. Namun, di balik koreksi ini, terjadi fenomena menarik di mana investor asing justru meningkatkan kepemilikan mereka di berbagai saham pilihan. Aktivitas beli bersih yang dilakukan oleh investor internasional menunjukkan adanya kepercayaan terhadap prospek jangka panjang emiten-emiten tertentu, meskipun kondisi pasar sedang lesu. Ini memberikan indikasi bahwa sebagian besar pelaku pasar melihat peluang di tengah volatilitas, fokus pada fundamental perusahaan yang kuat daripada sentimen pasar sesaat. Dengan demikian, dinamika antara pelemahan indeks dan akumulasi saham oleh asing menjadi sorotan utama, mengisyaratkan strategi investasi yang kontras di pasar modal.

Pergerakan pasar yang menunjukkan penurunan IHSG ini, meskipun memengaruhi valuasi pasar secara keseluruhan, ternyata tidak menyurutkan minat investor asing untuk terus berinvestasi. Hal ini tercermin dari peningkatan volume perdagangan mingguan, meskipun nilai transaksi harian justru menurun. Sektor-sektor tertentu bahkan berhasil mencatat penguatan yang cukup besar, menunjukkan bahwa ada resistensi yang kuat di beberapa area ekonomi. Kehadiran investor asing dengan dana segar mereka tidak hanya menjadi penopang bagi saham-saham tertentu, tetapi juga berpotensi memberikan stabilitas di tengah gejolak, menandakan potensi pemulihan yang didorong oleh kepercayaan dari luar negeri.

IHSG Melemah, Investor Asing Tetap Agresif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan perdagangan 19-22 Agustus 2025 dengan kinerja negatif, mencatatkan penurunan sebesar 0,50% dan mencapai level 7.858,85. Koreksi ini menyebabkan penyusutan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 116 triliun, turun menjadi Rp 14.131 triliun dari pekan sebelumnya. Meskipun pasar domestik menunjukkan tren pelemahan, yang tercermin dari penurunan nilai transaksi harian sebesar 15,95% menjadi Rp 17,92 triliun, namun di sisi lain, volume perdagangan mingguan justru meningkat 10% menjadi 39,47 miliar saham, dan frekuensi transaksi naik tipis 1,98% menjadi 2,12 juta kali, menandakan adanya aktivitas pasar yang tetap bergairah di tengah kondisi yang kurang menguntungkan.

Di tengah kondisi pasar yang lesu, investor asing menunjukkan perilaku yang kontras dengan melakukan pembelian bersih yang substansial, mencapai nilai Rp 2,73 triliun sepanjang pekan. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian investor global melihat potensi valuasi yang menarik di pasar Indonesia saat harga-harga saham terkoreksi. Sektor-sektor tertentu berhasil mengukir penguatan yang signifikan, seperti transportasi & logistik yang melonjak 3,85%, diikuti oleh sektor industri yang naik 4,68%, dan properti yang menguat 2,81%. Sebaliknya, sektor infrastruktur mengalami tekanan terberat dengan koreksi 1,79%, diikuti oleh energi yang turun 1,04%. Saham-saham yang paling banyak diburu oleh investor asing adalah Astra International (ASII), dengan pembelian bersih senilai Rp 1,06 triliun, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar Rp 559,9 miliar, dan Amman Mineral Internasional (AMMN) sebesar Rp 556,4 miliar. Perusahaan-perusahaan ini, meskipun di tengah koreksi pasar, masih dianggap memiliki prospek cerah dan fundamental yang kuat oleh investor internasional.

Sektor Unggulan dan Saham Favorit Investor Asing

Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan, beberapa sektor berhasil menunjukkan ketahanan dan bahkan pertumbuhan yang mengesankan. Sektor transportasi & logistik memimpin daftar dengan lonjakan signifikan sebesar 3,85%, menandakan adanya pemulihan atau peningkatan aktivitas di bidang tersebut. Tidak kalah menarik, sektor industri mencatat kenaikan sebesar 4,68%, menunjukkan adanya potensi pertumbuhan di sektor manufaktur dan produksi. Sektor properti juga tidak ketinggalan, dengan penguatan sebesar 2,81%, mengindikasikan adanya minat yang berkelanjutan dalam investasi properti. Namun, tidak semua sektor bernasib sama; sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 1,79%, diikuti oleh sektor energi yang juga mengalami penurunan sebesar 1,04%, menunjukkan adanya tekanan dari faktor-faktor tertentu yang memengaruhi kinerja mereka.

Di sisi lain, pergerakan saham-saham individu memainkan peran penting dalam dinamika IHSG. Astra International (ASII) dan Elang Mahkota Teknologi (EMTK) tercatat sebagai penopang utama indeks, dengan kontribusi masing-masing sebesar 29,94 poin dan 8,61 poin. Ini menunjukkan bahwa kinerja positif dari kedua emiten ini berhasil menahan laju penurunan IHSG agar tidak lebih dalam. Namun, ada juga saham-saham yang memberikan tekanan terbesar, seperti Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang memotong 52,81 poin, dan Bank Central Asia (BBCA) yang menggerus 17,84 poin dari indeks, menunjukkan bahwa kinerja negatif dari saham-saham berkapitalisasi besar ini memiliki dampak yang signifikan pada pergerakan pasar secara keseluruhan. Di antara saham-saham yang paling diincar oleh investor asing, ASII menempati posisi teratas, diikuti oleh BBRI, AMMN, Bank Mandiri (BMRI), Bumi Resources Minerals (BRMS), Nusantara Sawit Sejahtera (NSSS), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), Elang Mahkota Teknologi (EMTK), Indokripto Koin Semesta (COIN), dan WIR Asia (WIRG), menegaskan kepercayaan investor asing terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang dari perusahaan-perusahaan ini meskipun pasar sedang lesu.