Waspada FOMO dalam Investasi: Saran Penting dari LPS

Dalam era digital yang semakin maju, kesadaran generasi muda terhadap pengelolaan finansial pribadi, termasuk dalam urusan transaksi dan investasi, menunjukkan peningkatan yang signifikan. Namun, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyuarakan peringatan keras agar kaum milenial dan Gen Z tidak mudah terpengaruh oleh sindrom 'Fear of Missing Out' (FOMO) ketika mengambil keputusan investasi.

LPS Menggarisbawahi Pentingnya Pemahaman Risiko Investasi

Pada hari Rabu, 6 Agustus 2025, dalam gelaran megah LPS Financial Festival 2025 yang diselenggarakan di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Muhammad Rifqi, Ekonom Utama LPS, menyampaikan pesan krusial. Ia menekankan bahwa setiap langkah investasi harus didasari oleh pemahaman yang komprehensif mengenai potensi risiko yang melekat pada setiap instrumen keuangan. Rifqi menggarisbawahi bahwa kesalahan dalam membuat keputusan investasi dapat menimbulkan konsekuensi finansial jangka panjang yang tidak diinginkan.

\"Meskipun berbagai peluang menggiurkan seperti kripto atau saham terbuka lebar, pastikan Anda benar-benar memahami risiko yang ada. Jangan hanya mengikuti tren karena FOMO. Penting untuk mengerti apa yang Anda beli atau investasikan,\" tutur Rifqi dalam acara yang penuh inspirasi tersebut.

Ia menambahkan, investasi yang hanya didorong oleh keinginan untuk ikut-ikutan tren, tanpa dibekali analisis dan pemahaman yang matang, justru bisa menjadi bumerang dan menyebabkan masalah keuangan di kemudian hari. Fenomena FOMO, yang secara harfiah berarti rasa takut ketinggalan, seringkali mendorong individu untuk bertindak secara impulsif, suatu perilaku yang sangat merugikan dalam konteks investasi.

Dunia media sosial, dengan segala unggahan portofolio keberhasilan orang lain melalui foto, video, dan cerita, memiliki peran besar dalam memicu perasaan FOMO ini. Banyak individu merasa tertekan untuk terus mengikuti tren terbaru demi meraih keuntungan, tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan kondisi dan tujuan finansial pribadi mereka.

Untuk mengendalikan dorongan FOMO dalam berinvestasi, ada beberapa langkah strategis yang bisa diambil. Yang terpenting adalah mengenal dan memahami secara mendalam profil risiko serta gaya investasi yang paling sesuai dengan diri sendiri. Dengan mengetahui kedua aspek ini, seorang investor akan lebih teguh pada analisisnya sendiri dan tidak mudah goyah oleh bisikan atau tren dari pihak lain.

Pesan dari LPS ini menjadi pengingat yang berharga bagi para investor, terutama generasi muda, bahwa kesuksesan investasi tidak hanya ditentukan oleh potensi keuntungan, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam mengelola risiko dan menghindari jebakan emosional seperti FOMO. Pengetahuan dan analisis yang solid adalah fondasi utama menuju perjalanan investasi yang berkelanjutan dan menguntungkan.