Transaksi Besar di Bank MNC dan NOBU: Sinyal Merger atau Akuisisi Baru?

Pasar keuangan Jakarta tengah diramaikan dengan volume transaksi saham yang luar biasa pada dua entitas perbankan, PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) dan PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP). Kedua bank ini, yang sebelumnya santer diisukan akan melakukan merger, kini menjadi sorotan setelah adanya pergerakan saham bernilai fantastis di sesi perdagangan. Spekulasi pun bermunculan, mengaitkan transaksi jumbo ini dengan potensi merger yang tertunda atau manuver korporasi strategis lainnya, terutama mengingat riwayat saling tukar kepemilikan saham antar grup afiliasi dan akuisisi NOBU oleh investor asing.

Detail Pergerakan Pasar yang Mencengangkan

Pada hari Jumat, 22 Agustus 2025, pasar mencatat transaksi mencolok di saham NOBU dan BABP. Sebanyak 4,44 miliar lembar saham NOBU berpindah tangan melalui pasar negosiasi dengan nilai total Rp 560,1 miliar. Harga rata-rata per saham NOBU dalam transaksi ini mencapai Rp 126. Di sisi lain, saham BABP juga mencatat pergerakan serupa, dengan 747,7 juta lembar sahamnya diperdagangkan, menghasilkan nilai transaksi yang sama persis, yaitu Rp 560,1 miliar, dengan harga rata-rata Rp 749 per saham. Uniknya, kedua transaksi ini dieksekusi di atas harga pasar saat itu, memicu tanda tanya besar di kalangan investor.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada awal tahun 2023 telah menetapkan persyaratan modal inti minimum Rp 3 triliun bagi bank, yang mendorong diskusi merger antara BABP dan NOBU. Meskipun kedua bank tersebut kemudian berhasil memenuhi ketentuan modal inti secara mandiri melalui suntikan modal, OJK menegaskan bahwa rencana penggabungan tetap relevan untuk memperkuat fondasi bisnis bank.

Pada Mei 2024, sempat terjadi \"tukar guling\" kepemilikan saham antara entitas terkait kedua grup. PT MNC Land Tbk (KPIG) dari Grup MNC melepas 4,44 miliar saham BABP kepada PT Prima Cakrawala Sentosa, yang terafiliasi dengan Grup Lippo. Sebaliknya, Prima Cakrawala Sentosa menyerahkan 747,84 juta saham NOBU kepada KPIG. Perubahan kepemilikan ini menunjukkan dinamika hubungan antara kedua grup konglomerasi. Selanjutnya, pada awal Juli 2025, NOBU mengumumkan akuisisi 40% sahamnya, setara 2,9 miliar lembar, oleh Hanwha Life Insurance Co. Ltd., sebuah konglomerat besar dari Korea Selatan. Akuisisi ini melibatkan pengalihan saham dari keluarga Riady dan beberapa perusahaan terkait Grup Lippo.

Pandangan ke Depan: Spekulasi dan Tantangan

Pergerakan saham yang signifikan ini di tengah riwayat diskusi merger dan perubahan kepemilikan menjadi indikator kuat adanya aktivitas strategis di balik layar. Transaksi bernilai tinggi dan di atas harga pasar mengisyaratkan kepentingan jangka panjang para pihak yang terlibat. Dari sudut pandang seorang pengamat pasar, peristiwa ini bisa menjadi sinyal kuat bahwa diskusi merger antara Bank MNC dan NOBU kembali menghangat, atau mungkin saja menjadi bagian dari restrukturisasi kepemilikan yang lebih luas setelah masuknya Hanwha. Pertanyaan utamanya adalah apakah langkah-langkah ini akan mengarah pada penggabungan entitas, atau justru memperkuat posisi masing-masing bank dalam lanskap perbankan yang semakin kompetitif. Yang jelas, dinamika ini akan terus menarik perhatian investor dan pelaku pasar di masa mendatang, mengingat potensi dampak pada industri perbankan nasional.