Rupiah Melemah Terus, Dolar AS Makin Berkuasa

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang signifikan di pasar keuangan, melanjutkan tren depresiasi terhadap mata uang Amerika Serikat. Pada sesi penutupan perdagangan, rupiah tercatat melemah 0,34% hingga menyentuh angka Rp16.335 per dolar AS, sebuah titik terendah yang belum terlihat sejak awal Agustus 2025. Kondisi ini memperpanjang rentetan pelemahan rupiah selama lima hari berturut-turut, dengan akumulasi depresiasi mencapai 0,84% dalam sepekan terakhir.

Di sisi lain, penguatan indeks dolar AS (DXY) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah. DXY terpantau menguat 0,13% ke level 98,74, menunjukkan dominasi mata uang Paman Sam di pasar global. Kenaikan DXY ini didukung oleh antisipasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) dalam Simposium Jackson Hole. Meskipun data ketenagakerjaan AS sempat memicu spekulasi pemangkasan suku bunga, pernyataan hati-hati dari pejabat The Fed serta indikator inflasi membuat pasar lebih konservatif. Peluang pemangkasan suku bunga pada bulan September menurun menjadi 75% dari sebelumnya 92%, mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan akan menunggu data ekonomi lebih lanjut sebelum membuat keputusan.

Di tengah ketidakpastian global, Bank Indonesia (BI) menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan keyakinannya bahwa rupiah masih memiliki potensi untuk menguat. Keyakinan ini didasarkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, termasuk neraca pembayaran yang sehat dengan defisit rendah, inflasi yang terkendali, dan pertumbuhan ekonomi yang solid. BI menargetkan rupiah berada di kisaran Rp16.000-Rp16.500 per dolar AS untuk tahun ini dan tahun depan, serta akan terus berupaya menjaga stabilitas di level sekitar Rp16.300 per dolar AS. Upaya stabilisasi BI, masuknya modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN), dan peningkatan konversi devisa hasil ekspor telah berkontribusi pada penguatan rupiah sebesar 1,29% (point-to-point) hingga pertengahan Agustus 2025.

Pergerakan nilai tukar mata uang adalah cerminan dari dinamika ekonomi global yang kompleks, yang menuntut kewaspadaan dan adaptasi. Setiap fluktuasi, baik penguatan maupun pelemahan, dapat menjadi pelajaran berharga bagi pembuat kebijakan, pelaku pasar, dan masyarakat luas untuk terus memperkuat fondasi ekonomi dan mengembangkan strategi yang tangguh. Dengan komitmen yang teguh dan langkah-langkah proaktif, kita dapat mengarungi tantangan ekonomi dan membangun masa depan yang lebih stabil dan sejahtera.