
Berita terbaru dari dunia korporasi mencatat pergerakan signifikan dalam kepemilikan saham perusahaan kelapa sawit terkemuka, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Salah satu figur penting di balik perusahaan, Theodore Permadi Rachmat, baru-baru ini melakukan divestasi sebagian besar sahamnya. Ini terjadi di tengah periode kinerja finansial yang mengesankan bagi TAPG, yang berhasil mencatatkan peningkatan laba bersih yang luar biasa. Dinamika ini memicu spekulasi dan analisis di kalangan investor serta pelaku pasar mengenai implikasi langkah strategis konglomerat tersebut terhadap prospek masa depan TAPG di sektor agribisnis.
TP Rachmat Lepas Jutaan Saham Triputra Agro (TAPG) di Jakarta
Pada tanggal 21 Agustus 2025, pasar modal dihebohkan dengan kabar dari Jakarta. Theodore Permadi Rachmat, sosok konglomerat yang dikenal luas, telah menjual 4,03 juta lembar saham miliknya di PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit. Data kepemilikan saham yang dirilis oleh KSEI menunjukkan bahwa setelah transaksi ini, porsi kepemilikan TP Rachmat di TAPG kini berada di angka 5,16%, turun dari sebelumnya 5,18%, dengan total saham yang dipegang menjadi 1.024.562.800 lembar.
Penjualan saham ini terjadi ketika TAPG sedang menikmati puncak kinerja finansialnya. Perusahaan berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 16,16%, mencapai Rp9,67 triliun. Keberhasilan ini didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata produk dan efisiensi biaya produksi yang optimal. Terbukti, biaya bahan baku CPO berhasil ditekan hingga 2,65% menjadi Rp3,84 triliun, dan biaya tenaga kerja terkait produksi juga menyusut 0,57% menjadi Rp689 miliar. Selain itu, biaya penjualan berhasil dikurangi sebesar 28,35%.
Tidak hanya itu, TAPG juga mendapatkan dorongan signifikan dari usaha patungannya (JV), dengan pendapatan yang melonjak 38,94% secara tahunan menjadi Rp893 miliar. Kontribusi terbesar datang dari laba bersih entitas patungan di PT Union Sampoerna Triputra Persada, yang menyumbang Rp886 miliar kepada TAPG, naik 39%. Berkat serangkaian strategi dan kinerja positif ini, laba bersih TAPG meroket tajam hingga 94,02%, mencapai Rp3,12 triliun.
Dari sudut pandang seorang pengamat pasar, divestasi saham oleh seorang tokoh sekaliber TP Rachmat ini tentu menimbulkan pertanyaan. Meskipun kinerja perusahaan sedang sangat baik, langkah penjualan ini bisa diinterpretasikan dalam berbagai cara. Apakah ini merupakan strategi diversifikasi portofolio pribadi, ataukah ada pertimbangan jangka panjang lain yang mendasari keputusan tersebut? Bagi investor, penting untuk mencermati apakah penjualan ini mencerminkan pandangan pribadi konglomerat terhadap valuasi saat ini atau potensi pertumbuhan masa depan. Di sisi lain, kinerja fundamental TAPG yang solid menunjukkan bahwa perusahaan memiliki dasar yang kuat untuk terus berkembang, terlepas dari pergerakan kepemilikan individual.
