
Meskipun Bank Sentral Indonesia telah beberapa kali memangkas suku bunga acuannya, sektor perbankan Tanah Air menunjukkan kecenderungan yang lambat dalam menyesuaikan suku bunga kredit mereka. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai dinamika pasar keuangan dan strategi yang diterapkan oleh bank-bank dalam negeri.
Para petinggi di industri perbankan, seperti Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, dan Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, seragam dalam menyatakan bahwa biaya pendanaan (cost of fund/CoF) menjadi faktor krusial. Menurut mereka, suku bunga kredit tidak serta-merta turun seiring dengan penurunan BI Rate, melainkan lebih cenderung mengikuti pergerakan CoF. Penurunan BI Rate memang diharapkan dapat menekan suku bunga dana pihak ketiga (DPK), yang pada gilirannya akan mengurangi CoF dan memungkinkan penurunan suku bunga kredit secara bertahap.
Selain masalah biaya dana, pertimbangan risiko kredit juga memainkan peran penting. Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal, dan Direktur Risiko, Legal, dan Kepatuhan Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, menjelaskan bahwa bank selalu memperhitungkan risiko kredit yang ada dan memasukkannya sebagai komponen dalam penetapan suku bunga kredit (risk based pricing). Ini berarti, debitur dengan profil risiko yang lebih rendah seyogyanya akan mendapatkan suku bunga yang lebih kompetitif. Likuiditas dan margin keuntungan (NIM) bank juga menjadi aspek yang tak terpisahkan dalam pengambilan keputusan ini.
Fenomena 'saling menunggu' di antara bank-bank juga teramati. Wakil Direktur Bank INA Perdana, Yulius Purnama Junaedi, menyebutkan bahwa bank-bank cenderung memantau pergerakan suku bunga di pasar dan menunggu respons dari bank-bank besar sebelum membuat penyesuaian signifikan. Allo Bank, misalnya, masih mengkaji respons pasar terhadap penurunan BI Rate sambil mengamati tindakan bank lain untuk memastikan keputusan yang tepat waktu dan tarif yang sesuai.
Kondisi ini, di mana suku bunga kredit stagnan meskipun BI Rate telah turun, berdampak pada perlambatan pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit melambat menjadi 7,03% secara tahunan per Juli 2025, jauh dari target Bank Sentral sebesar 8% hingga 11% pada akhir tahun. Kenaikan suku bunga kredit baru, terutama pada bank umum swasta nasional (BUSN), mengindikasikan bahwa bank-bank mungkin mengalihkan fokus pada segmen kredit dengan imbal hasil yang lebih tinggi, seperti ritel dan UMKM, untuk menjaga profitabilitas mereka di tengah tantangan ini.
Pada akhirnya, dinamika ini menunjukkan kompleksitas dalam penentuan suku bunga kredit, yang tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter, tetapi juga oleh struktur biaya bank, manajemen risiko, dan strategi persaingan di pasar. Proses penyesuaian ini membutuhkan waktu dan penyesuaian bertahap oleh industri perbankan.
