
Pada tanggal 21 Agustus 2025, pasar modal Indonesia menyaksikan fenomena yang membingungkan: meskipun sebagian besar saham mengalami kenaikan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru bergerak di zona merah sepanjang hari dan ditutup dengan penurunan lebih dari 1%, menjauhi level psikologis 8.000. Kejadian ini patut disoroti, mengingat sehari sebelumnya Bank Indonesia telah mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan, sebuah kebijakan yang umumnya direspons positif oleh pasar.
Bank Indonesia (BI) pada tanggal 20 Agustus 2025, melalui Gubernur Perry Warjiyo, mengumumkan penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5%. Keputusan ini juga diikuti dengan penyesuaian suku bunga deposit facility menjadi 4,25% dan suku bunga lending facility menjadi 5,75%. Kebijakan ini didasari oleh proyeksi inflasi yang stabil pada rentang 2,5±1% untuk tahun 2025 dan 2026, stabilitas nilai tukar Rupiah yang terjaga, serta kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan kapasitas perekonomian nasional. Setelah pengumuman ini, IHSG sempat menunjukkan respons positif, ditutup naik 1,03% setelah dua hari sebelumnya mengalami koreksi.
Namun, euforia tersebut tidak berlangsung lama. Pada pembukaan perdagangan hari berikutnya, IHSG langsung anjlok 0,51% dan menutup sesi pertama dengan penurunan 0,61%. Penurunan drastis IHSG terutama disebabkan oleh anjloknya saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Saham emiten Grup Sinar Mas ini merosot tajam sebesar 14,94% ke level Rp 78.550, menjadi penekan utama indeks dengan sumbangan negatif sebesar 53,09 poin. Anjloknya DSSA terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengurangi bobot Foreign Inclusion Factor (FIF) untuk saham tersebut, dari 0,25 menjadi 0,13. Penyesuaian ini dipicu oleh adanya ketidakpastian mengenai free float saham DSSA berdasarkan masukan dari pelaku pasar. Dengan kapitalisasi pasar yang mencapai Rp 605,9 triliun, DSSA merupakan salah satu dari sepuluh emiten dengan kapitalisasi terbesar di bursa, sehingga fluktuasi harganya memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan IHSG.
Selain DSSA, saham-saham dari emiten Prajogo Pangestu, seperti Barito Renewables Energy Tbk (BREN), Barito Pacific Tbk (BRPT), dan Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), juga turut memberikan tekanan pada indeks. BREN turun 2,91%, sementara BRPT dan TPIA masing-masing turun 3,4% dan 1,12%. Meskipun beberapa saham blue-chip seperti Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), United Tractors Tbk (UNTR), Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), Astra International Tbk (ASII), dan Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencoba menahan laju penurunan, tekanan dari DSSA dan emiten Prajogo Pangestu terlalu besar untuk diimbangi. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun kebijakan moneter mendukung pertumbuhan, faktor-faktor spesifik di pasar, seperti perubahan bobot indeks dan kinerja emiten berkapitalisasi besar, dapat secara signifikan memengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan.
Pergerakan IHSG pada hari tersebut menggambarkan kompleksitas pasar saham, di mana sentimen positif dari kebijakan makroekonomi dapat dinetralisir oleh faktor-faktor mikro yang memengaruhi saham-saham dengan bobot besar. Penurunan signifikan DSSA akibat penyesuaian bobot FIF oleh MSCI menyoroti pentingnya faktor teknikal dan fundamental saham-saham berkapitalisasi besar dalam menentukan arah pergerakan indeks, bahkan ketika kondisi pasar secara umum didukung oleh kebijakan moneter yang akomodatif.
