Strategi BTN Tingkatkan Dana Murah dan Efisiensi Biaya Pendanaan

Bank BTN (BBTN) sedang gencar melaksanakan program strategis untuk meningkatkan penerimaan dana murah, yang diharapkan dapat menekan biaya pendanaan dan memperkuat basis keuangan bank. Upaya ini mencakup konsolidasi pengelolaan DPK, perluasan jaringan akuisisi melalui ekosistem bisnis, serta pengoptimalan platform digital untuk transaksi nasabah.

Meningkatkan Efisiensi, Mengamankan Masa Depan: Komitmen BTN dalam Pengelolaan Dana.

Optimalisasi Pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK) untuk Efisiensi Biaya

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) bertekad memperkuat penghimpunan dana murah di paruh kedua tahun 2025. Bank ini memfokuskan strateginya pada konsolidasi pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK), memperluas akuisisi nasabah berbasis ekosistem bisnis, dan mengintensifkan penggunaan produk digital seperti Bale by BTN dan Bale Korpora by BTN. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan loyalitas nasabah melalui transaksi yang efisien serta mengurangi beban biaya pendanaan bank.

Pencapaian dan Target Pertumbuhan Dana Ritel

Hingga akhir Mei 2025, segmen DPK ritel BTN telah mencapai Rp65,65 triliun, mendekati 93,5% dari target semester berjalan. Meskipun tabungan institusi masih mendominasi kontribusi DPK, pertumbuhan dana ritel individu, terutama dari tabungan transaksional, menunjukkan tren positif. Direktur Network & Retail Funding BTN, Rully Setiawan, menyatakan bahwa target dana ritel atau nasabah perorangan adalah sekitar Rp3 triliun per bulan, tidak termasuk dari segmen UMKM, dengan harapan pertumbuhan ini akan konsisten. Secara keseluruhan, BTN menargetkan pertumbuhan DPK sekitar 2% di atas pertumbuhan kredit.

Penekanan Biaya Pendanaan Melalui Peningkatan CASA

BTN berambisi untuk mencapai komposisi dana murah di atas 55% pada akhir tahun ini. Peningkatan giro dan tabungan (CASA) dianggap krusial untuk menurunkan biaya pendanaan (Cost of Fund) hingga di bawah 4%, bahkan mendekati 3,79% pada akhir tahun. Penguatan dana murah ini akan dilaksanakan secara terukur dan berbasis eksekusi di lapangan, dengan memusatkan seluruh pengelolaan tabungan, giro, dan deposito ke dalam divisi khusus untuk pendanaan ritel.

Strategi Tiga Pilar untuk Pertumbuhan Dana Ritel

Untuk mendukung pertumbuhan dana ritel, BTN berfokus pada tiga area utama. Pertama, menggarap potensi nasabah UMKM dan nasabah payroll melalui pemetaan nasional yang ditindaklanjuti oleh unit kerja di lapangan. Kedua, memaksimalkan potensi bisnis lokal di sekitar kantor cabang, khususnya dari sektor properti, pendidikan, dan kesehatan. Ketiga, memperkuat hubungan dengan nasabah eksisting, terutama yang terkait dengan ekosistem perumahan BTN, melalui peningkatan kepemilikan produk dan integrasi layanan digital melalui Bale by BTN.

Peran Digitalisasi dan Pengembangan Produk Baru

Pemanfaatan Bale by BTN dirancang untuk memastikan bahwa hubungan dengan nasabah tidak hanya berakhir pada pembukaan rekening, tetapi berlanjut ke transaksi aktif dan hubungan jangka panjang yang produktif. Bale by BTN telah terintegrasi dengan rekening nasabah payroll, memudahkan transaksi dan memberikan layanan lengkap seperti kredit ringan. BTN juga berencana meluncurkan bisnis Private Banking untuk segmen nasabah atas dengan minimal rekening Rp15 miliar, melihat potensi besar di pasar ini. Strategi yang terfokus, pendekatan berbasis potensi wilayah, serta penguatan digitalisasi dan produktivitas karyawan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan dana murah yang sehat dan berkelanjutan, membangun struktur pendanaan yang kokoh dan efisien.