Saham BBCA Tertekan di Tengah Kontroversi Pengambilalihan Pemerintah dan Tren Perbankan

Artikel ini membahas pergerakan saham Bank Central Asia (BBCA) yang terus melemah, khususnya di tengah isu kontroversial mengenai dugaan kerugian negara dari penjualan sahamnya pada tahun 2002. Situasi ini diperparah oleh tekanan pasar dan tantangan di sektor perbankan.

Di Tengah Badai Isu Pengambilalihan, Saham BBCA Terus Goyah!

Tren Penurunan Saham BBCA yang Berlanjut di Tengah Sorotan Publik

Pada hari Jumat, 22 Agustus 2025, harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami pelemahan, ditutup pada level Rp 8.450 dengan penurunan sebesar 1,17%. Jika dibandingkan dengan nilai tertingginya pada bulan ini, yang tercatat pada Rabu, 13 Agustus 2025, saham BBCA telah merosot sekitar 5,32%. Sejak awal tahun, kinerja saham ini bahkan menunjukkan penurunan yang lebih drastis, mencapai 14,65%.

Kontroversi BLBI Membayangi Pergerakan Saham Bank Swasta Terkemuka

Penurunan nilai saham BBCA belakangan ini tak lepas dari gejolak yang muncul akibat kontroversi terkait penjualan 51% saham bank tersebut pada tahun 2002. Isu ini kembali mencuat seiring upaya penyelesaian kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang telah berjalan lebih dari dua dekade. Ada dugaan bahwa transaksi tersebut merugikan keuangan negara, memicu sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bahkan, muncul desakan agar pemerintah melakukan pengambilalihan 51% saham BBCA tanpa memberikan kompensasi.

Penjelasan dari Pihak Bank dan Respons Pasar yang Berbeda

Menanggapi isu yang beredar, CEO Danantara, Rosan Roeslani, dengan tegas membantah adanya rencana akuisisi BCA. Sementara itu, Corporate Secretary BCA, I Ketut Alam Wangsawijaya, juga membantah tudingan mengenai pelanggaran hukum dalam akuisisi 51% saham BCA oleh Grup Djarum dari Grup Salim dengan nilai Rp5 triliun. Namun, bantahan ini belum mampu meredam tekanan jual terhadap saham BBCA. Meskipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan, sentimen positif dari kebijakan tersebut belum berhasil mendongkrak saham bank swasta ini. Investor domestik tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) saham BBCA senilai Rp 130,2 miliar pada perdagangan Kamis, 21 Agustus 2025.

Tantangan di Sektor Perbankan dan Strategi Konservatif BBCA

Secara umum, sektor perbankan saat ini dihadapkan pada periode yang cukup menantang. Tingginya suku bunga yang bertahan dalam jangka waktu lama memberikan tekanan pada pendapatan bank karena meningkatnya beban bunga. Dalam menghadapi kondisi ini, manajemen BBCA menunjukkan sikap yang lebih konservatif, salah satunya dengan menaikkan proyeksi Biaya Kredit (Cost of Credit/CoC) untuk tahun ini. Data dari CNBC Indonesia Research menunjukkan bahwa pada paruh pertama 2025, beban provisi BBCA melonjak tajam hingga 43% secara tahunan (yoy), dengan kenaikan sebesar 81% yoy pada kuartal kedua saja. Peningkatan provisi ini menyebabkan CoC BBCA naik menjadi 0,5% dari sebelumnya 0,3% pada semester I/2024. CoC merupakan indikator biaya yang harus disisihkan bank sebagai 'asuransi' untuk mengantisipasi potensi kredit macet. Semakin tinggi CoC, semakin besar pula dana cadangan yang harus disiapkan bank.

Dampak Peningkatan Cadangan Terhadap Profitabilitas Bank

Manajemen BBCA menegaskan bahwa langkah penambahan provisi ini merupakan tindakan proaktif untuk memperkuat \"bantalan\" dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Peningkatan cadangan ini juga sejalan dengan kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL gross) yang mencapai 2,2% pada kuartal II/2025, naik dari 2,0% pada kuartal sebelumnya dan 1,8% pada akhir 2024. Peningkatan beban untuk menahan risiko kredit macet ini pada akhirnya memberikan tekanan pada pertumbuhan profitabilitas BBCA. Meskipun demikian, dalam enam bulan pertama tahun ini, BBCA berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp29 triliun, meningkat 8% secara tahunan (yoy). Namun, jika dilihat dari basis kuartalan, pertumbuhan ini menunjukkan tren perlambatan.