
Pada akhir pekan ini, mata uang domestik Indonesia, Rupiah, mengalami tekanan signifikan dan dibuka melemah terhadap mata uang Amerika Serikat. Penurunan nilai tukar ini dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan global yang menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan. Tercatat, nilai tukar Rupiah menyentuh angka Rp16.360 per dolar AS, sebuah pergerakan yang menarik perhatian para pelaku pasar dan masyarakat luas.
Gejolak pasar nilai tukar Rupiah tidak lepas dari berbagai dinamika yang terjadi, baik dari dalam negeri maupun internasional. Di pasar global, dolar AS sendiri sedang menghadapi tekanan setelah sinyal penurunan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) New York. Presiden The Fed New York, John Williams, mengisyaratkan potensi penurunan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang akan datang, dengan probabilitas pemangkasan sebesar 25 basis poin mencapai 85% menurut alat FedWatch CME. Hal ini secara umum seharusnya mengurangi daya tarik dolar AS. Lebih lanjut, upaya Presiden Donald Trump untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook menimbulkan kekhawatiran akan independensi bank sentral, yang berpotensi mendorong investor asing untuk mengurangi kepemilikan aset dolar dan beralih ke mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meskipun demikian, sentimen positif dari data ekonomi AS, seperti revisi naik Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II dan penurunan klaim pengangguran, gagal menopang dolar AS sepenuhnya. Namun, tekanan yang dialami Rupiah tidak hanya berasal dari dinamika eksternal. Dari ranah domestik, aksi unjuk rasa ribuan buruh di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta pada hari Kamis kemarin turut membayangi pasar keuangan. Demonstrasi tersebut, yang menuntut penghapusan sistem outsourcing dan penolakan kebijakan upah rendah, berakhir dengan kericuhan dan bahkan insiden tragis yang menewaskan seorang mitra pengemudi daring.
Perusahaan aplikasi daring yang bersangkutan telah menyatakan duka cita mendalam dan simpati kepada keluarga korban serta rekan-rekan pengemudi lainnya. Kejadian ini menambah daftar faktor yang memengaruhi persepsi risiko di Indonesia, sehingga menciptakan sentimen negatif yang memperburuk posisi Rupiah di pasar valuta asing. Gabungan antara sinyal pelonggaran moneter di AS, kekhawatiran terhadap independensi The Fed, dan ketidakpastian politik-ekonomi di dalam negeri, semuanya berkontribusi pada pelemahan mata uang Garuda.
Secara keseluruhan, pelemahan nilai tukar Rupiah pada perdagangan terakhir pekan ini mengindikasikan sensitivitas pasar terhadap perubahan kebijakan moneter global dan stabilitas domestik. Ke depan, para investor akan terus memantau perkembangan terkait kebijakan The Fed serta situasi sosial-politik di Indonesia untuk menilai arah pergerakan nilai tukar mata uang ini.
