
Pada hari perdagangan yang baru saja berlalu, pasar saham Indonesia menyaksikan sebuah dinamika yang menarik: meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencapai puncak rekor baru, investor asing justru secara kolektif memilih untuk mengurangi kepemilikan saham mereka. Pergerakan ini menimbulkan pertanyaan mengenai arah investasi asing dan dampaknya terhadap emiten-emiten besar di pasar domestik.
Detail Perdagangan Pasar Saham Terkini
Pada hari Kamis yang indah, tanggal 28 Agustus 2025, suasana pasar modal Jakarta dipenuhi kontras. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan sejarah baru, mencapai level penutupan tertinggi sepanjang masa di angka 7.952,09, setelah sempat menyentuh puncaknya di 8.022,76 pada sesi perdagangan siang. Kenaikan IHSG ini menunjukkan kekuatan pasar domestik, dengan mayoritas sektor menunjukkan penguatan, terutama sektor teknologi yang melonjak 2,55%, diikuti oleh kesehatan, konsumer, dan energi.
Namun, di tengah euforia kenaikan IHSG, investor asing menunjukkan perilaku yang berbeda. Mereka tercatat melakukan penjualan bersih (net foreign sell) sebesar Rp 278,6 miliar. Transaksi penjualan mencapai Rp 5,27 triliun, sementara pembelian hanya Rp 4,99 triliun. Aksi jual ini secara signifikan memengaruhi beberapa saham terkemuka. Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), emiten milik Hashim Djojohadikusumo, menjadi yang paling banyak dilepas asing, mencapai Rp 195,3 miliar, menyebabkan harganya anjlok 5,57% ke level Rp 2.880.
Selain WIFI, saham-saham konglomerat lainnya juga menjadi sasaran penjualan. PT Amman Mineral International Tbk (AMMN), yang terafiliasi dengan Salim, mengalami penjualan bersih asing sebesar Rp 111 miliar, sedangkan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu dilepas asing senilai Rp 54,8 miliar. Daftar saham yang paling banyak dijual asing juga mencakup nama-nama besar seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO), PT United Tractor Tbk (UNTR), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT WIR Asia Tbk (WIRG), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Perdagangan hari itu melibatkan perpindahan tangan 44,48 miliar saham dalam 2,08 juta kali transaksi, dengan nilai transaksi mencapai Rp 16,63 triliun. Sebanyak 377 saham berhasil naik, 288 saham turun, dan 140 saham stagnan.
Fenomena ini menyoroti bahwa meskipun pasar secara keseluruhan menunjukkan tren positif, investor asing mungkin memiliki perspektif yang berbeda, mungkin karena pertimbangan makroekonomi global atau strategi investasi portofolio mereka.
Peristiwa ini memberikan pelajaran penting tentang kompleksitas pasar keuangan. Meskipun IHSG mencapai rekor tertinggi, aliran modal asing yang keluar menunjukkan adanya ketidakpastian atau realisasi keuntungan oleh investor global. Ini menggarisbawahi perlunya investor domestik untuk tidak hanya melihat pergerakan indeks secara umum, tetapi juga memperhatikan detail pergerakan modal asing dan saham-saham yang terpengaruh. Pasar selalu menyajikan peluang dan tantangan; pemahaman mendalam tentang dinamikanya adalah kunci untuk menavigasi setiap gelombangnya.
