
Masa Depan Hijau: Bersama Swasta dan BUMN Membangun Pasar Karbon yang Kuat!
Meningkatkan Partisipasi dalam Pasar Karbon Nasional
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia secara aktif menggalang dukungan untuk memperluas cakupan unit karbon, dengan tujuan utama mendorong aktivitas transaksi di Bursa Karbon Indonesia, yang dikenal sebagai IDX Carbon. Upaya ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menciptakan pasar karbon yang dinamis dan inklusif.
Keterlibatan Pihak Swasta dan Verifikasi Karbon
Noer Adi Wardojo, seorang pakar di bidang Keberlanjutan Sumber Daya Hayati dan Sosial Budaya KLH, menjelaskan bahwa pihaknya akan membuka jalur komunikasi selebar-lebarnya dengan sektor swasta. Selain itu, pertemuan juga akan dilakukan dengan lembaga-lembaga yang berfokus pada penilaian serta verifikasi skema kredit karbon. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan transparansi dan kredibilitas dalam setiap transaksi.
Visi Indonesia dalam Pemanfaatan Instrumen Karbon
Menurut Adi, hal yang terpenting adalah membuka kesempatan bagi semua pihak untuk berkolaborasi dalam perdagangan karbon. Beliau menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk memanfaatkan instrumen-instrumen ini, bukan hanya dari aspek nilai ekonominya, tetapi juga karena manfaat nyata yang diberikannya bagi peningkatan kualitas lingkungan di Indonesia. "Semangat kami adalah untuk mencapai tujuan tersebut," ujarnya di sela-sela acara Green Summit 2025.
Peran Strategis Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dipandang sebagai representasi pemerintah dan diharapkan dapat menjadi pelopor dalam mengimplementasikan kegiatan usaha yang berprinsip rendah karbon, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Adi menegaskan pentingnya BUMN menunjukkan kepemimpinan dan menjadi teladan bagi sektor lainnya. Oleh karena itu, KLH akan terus berinteraksi dengan BUMN untuk mendorong peran aktif mereka dalam inisiatif ini.
Perkembangan Transaksi Karbon di IDX Carbon
Hingga Juli 2025, perdagangan unit karbon di IDX Carbon telah mencapai angka 1,6 juta ton CO2 ekuivalen Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK). Total nilai transaksi yang berhasil dicatat mencapai Rp77,85 miliar, menunjukkan potensi besar pasar karbon di Indonesia yang terus berkembang.
