
Pada hari Kamis, 28 Agustus 2025, pasar modal Indonesia menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menorehkan pencapaian signifikan dengan menembus angka 8.000 pada sesi perdagangan siang, mencapai level tertinggi sepanjang hari. Lonjakan ini terjadi di tengah suasana ibu kota yang diwarnai oleh aksi unjuk rasa besar-besaran yang melibatkan ribuan pekerja. Situasi ini menggambarkan bahwa dinamika pasar finansial dapat bergerak independen dari gejolak sosial tertentu, didorong oleh faktor-faktor fundamental dan pergerakan saham-saham unggulan.
Kinerja positif IHSG ini didominasi oleh pergerakan beragam sektor, dengan sektor teknologi menjadi pendorong utama, mencatat kenaikan lebih dari 3%. Sektor-sektor lain seperti kesehatan, energi, dan konsumer primer juga turut memberikan kontribusi positif, menunjukkan pertumbuhan yang solid. Volume transaksi yang mencapai hampir Rp 9 triliun dengan lebih dari satu juta kali transaksi mengindikasikan aktivitas perdagangan yang sangat aktif. Ini mencerminkan kepercayaan investor yang berkelanjutan terhadap potensi pasar saham Indonesia, meskipun ada kekhawatiran terhadap stabilitas sosial.
Penguatan indeks secara signifikan dipicu oleh beberapa emiten besar. Saham PT DCI Indonesia (DCII), yang dimiliki oleh konglomerat Toto Sugiri, memberikan kontribusi poin indeks terbesar dengan kenaikan harga yang substansial. Selain itu, saham PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari grup Sinar Mas juga berperan penting dalam mengangkat indeks. Dukungan juga datang dari saham Astra International (ASII) serta bank-bank besar seperti BMRI, BBRI, dan BBNI, yang secara kolektif mendorong indeks menuju rekor baru.
Ironisnya, kenaikan IHSG yang mencapai titik tertinggi baru ini beriringan dengan demonstrasi buruh yang masif di Jakarta. Sekitar 10.000 buruh dari berbagai serikat pekerja, termasuk Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Partai Buruh, berkumpul di depan Gedung DPR. Meskipun aksi ini menarik perhatian publik dan berpotensi menimbulkan disrupsi, pasar saham tetap menunjukkan performa impresifnya. Presiden KSPI, Said Iqbal, menegaskan bahwa aksi ini dipusatkan di DPR, bukan di Istana Kepresidenan, dengan partisipasi buruh dari berbagai daerah sekitar Jakarta.
Meskipun pasar domestik menunjukkan ketahanan, data menunjukkan adanya pergerakan investor asing yang mulai menarik dana dari pasar keuangan Indonesia. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing mencatat penjualan bersih yang cukup signifikan, mengakhiri tren pembelian bersih selama sebelas hari terakhir. Beberapa saham blue-chip yang menjadi target penjualan bersih investor asing termasuk Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Adaro Energy (ADRO), Telkom Indonesia (TLKM), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Elang Mahkota Internasional (EMTK). Ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang kompleks, di mana sentimen investor asing bisa berbeda dari optimisme pasar domestik.
Secara keseluruhan, kinerja pasar saham Indonesia pada hari ini menggambarkan kekuatan fundamental ekonomi yang mampu menahan tekanan dari faktor-faktor eksternal, seperti unjuk rasa buruh. Meskipun ada beberapa saham yang mengalami penjualan bersih dari investor asing, penguatan yang signifikan dari saham-saham berkapitalisasi besar dan kinerja sektor-sektor unggulan berhasil mendorong IHSG melampaui level psikologis 8.000. Hal ini menekankan pentingnya analisis mendalam terhadap pendorong pasar dan responsnya terhadap kondisi makro dan sosial.
