OJK Menyetujui Penggabungan Empat Bank: Kisah Binsani dan Konsolidasi Perbankan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini menyetujui penggabungan empat Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dengan PT BPR Bina Sejahtera Insani (Binsani) menjadi entitas yang bertahan. Keputusan ini, yang berlaku efektif sejak 16 Agustus 2025, merupakan langkah signifikan dalam memperkuat sektor perbankan pedesaan di Indonesia. Setelah merger, Bank Binsani, yang kini berpusat di Karanganyar, Jawa Tengah, mencatat peningkatan substansial dalam neracanya: total asetnya mencapai Rp1,45 triliun, diikuti oleh liabilitas sebesar Rp1,31 triliun, dan ekuitas yang tercatat sebesar Rp142,96 miliar. Konsolidasi ini sejalan dengan visi OJK untuk mengurangi jumlah BPR di seluruh negeri dari sekitar 1.300 menjadi 1.000, dengan tujuan meningkatkan stabilitas dan efisiensi industri.

Bank Binsani memiliki sejarah panjang dalam lanskap keuangan Indonesia, didirikan pada tahun 1988 sebagai respons terhadap Paket Kebijakan Deregulasi Perbankan (Pakto 88). Pendiriannya didorong oleh kebutuhan mendesak untuk melayani usaha kecil dan menengah (UKM) yang sering kali menghadapi hambatan dalam mengakses layanan perbankan tradisional. Para pendiri Insani Group melihat peluang untuk mendukung pengusaha-pengusaha ini dengan menyediakan akses ke permodalan, tabungan, dan layanan transaksi keuangan lainnya. Seiring waktu, Bank Binsani telah memperluas jaringannya secara signifikan, dari dua BPR awal di Palur dan Pedan pada tahun 1989, dan satu lagi di Cepu pada tahun 1990, menjadi 33 kantor layanan yang tersebar luas, menunjukkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap inklusi keuangan.

Penggabungan ini tidak hanya mengkonsolidasikan kekuatan finansial, tetapi juga merefleksikan adaptasi berkelanjutan dalam menghadapi dinamika pasar. Dengan pengalaman hampir empat dekade dan kemampuan bertahan melalui berbagai krisis keuangan, Bank Binsani menunjukkan ketahanan dan visi strategisnya. Langkah konsolidasi ini diharapkan akan menciptakan entitas perbankan yang lebih kuat dan tangguh, yang mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional. Ini adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi dan adaptasi dapat membangun masa depan yang lebih cerah bagi industri perbankan dan masyarakat luas.