
Sektor pembiayaan perumahan di Indonesia menghadapi tantangan signifikan dengan kontribusi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang masih tergolong sangat rendah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Situasi ini mengindikasikan adanya celah besar dalam pemanfaatan potensi ekonomi dari sektor perumahan, yang sebenarnya mampu memberikan dampak multiplikasi positif bagi perekonomian nasional, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan output ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis untuk meningkatkan penetrasi KPR dan mengoptimalkan peran sektor perumahan sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi.
Pada rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang diadakan pada Kamis, 21 Agustus 2025, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN), Bapak Nixon L.P. Napitupulu, memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Menurut beliau, kontribusi KPR terhadap PDB Indonesia hanya mencapai 3%. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Filipina (3,8%), Thailand (22,3%), Malaysia (38,4%), dan Singapura (44,8%). Perbandingan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar yang belum termanfaatkan dalam sektor perumahan.
Padahal, sektor perumahan memiliki efek berganda yang luar biasa bagi perekonomian. Setiap suntikan modal sebesar Rp 1 triliun di sektor ini diperkirakan mampu menciptakan 8.000 lapangan kerja baru dan meningkatkan output perekonomian hingga sekitar Rp 3.000 triliun setiap tahunnya. Dengan demikian, peningkatan aktivitas di sektor perumahan tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat akan hunian, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap penciptaan kesejahteraan dan stabilitas ekonomi.
Bank BTN, sebagai salah satu lembaga keuangan yang fokus pada pembiayaan perumahan, telah menunjukkan komitmennya dalam mendukung program pemerintah. Hingga Juni, program 3 juta rumah telah berhasil merealisasikan pembangunan lebih dari 100 ribu unit. BTN sendiri menargetkan penyaluran 220 ribu rumah subsidi, yang berarti sekitar 1.000 unit rumah setiap hari kerja, untuk masyarakat Indonesia. Meskipun terjadi sedikit pengurangan kuota pada tahun 2024, kontribusi BTN dalam program KPR Sejahtera terus meningkat dari tahun ke tahun. Upaya ini menunjukkan peran aktif BTN dalam mewujudkan visi pemerintah untuk penyediaan hunian yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat.
Data dari Bank Indonesia per Juni 2025 menunjukkan bahwa total penyaluran KPR oleh industri perbankan mencapai Rp 816,5 triliun, meningkat 7,7% secara tahunan. Meskipun ada pertumbuhan, kecepatan pertumbuhan outstanding KPR pada bulan Juni melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mendorong pertumbuhan sektor KPR agar dapat berkontribusi lebih optimal terhadap PDB dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi Indonesia.
