
Pembukaan perdagangan hari ini menunjukkan performa positif untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di mana indeks tersebut berhasil menguat sebesar 0,2% atau sekitar 15,68 poin, mencapai level 7.951,86. Tren kenaikan ini berlanjut beberapa menit setelah pembukaan, dengan IHSG melonjak hingga 0,42%. Aktivitas perdagangan awal tercatat mencapai nilai Rp 516,1 miliar, melibatkan transaksi 1,05 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 67.090 kali. Saham-saham dengan volume transaksi paling signifikan meliputi BBCA, DSSA, dan WIFI.
Di sisi lain, kondisi pasar domestik dan global menghadirkan sejumlah dinamika yang perlu diperhatikan. Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada rencana demonstrasi besar oleh ribuan buruh. Diperkirakan 10.000 pekerja dari berbagai serikat buruh akan berkumpul di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada hari ini, Kamis (28/8/2025). Aksi ini digagas oleh Partai Buruh dan Koalisi Serikat Pekerja, termasuk Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Presiden KSPI, Said Iqbal, menyatakan bahwa buruh dari Karawang, Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang, dan DKI Jakarta akan memusatkan demonstrasi mereka di DPR RI, bukan di Istana Kepresidenan. Sementara itu, IHSG terus berupaya mencapai rekor penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level 7.943,82 yang tercatat pada Rabu (20/8/2025). Namun, di tengah ambisi ini, investor asing justru menunjukkan tren penjualan bersih sebesar Rp 212,5 miliar pada perdagangan kemarin, mengakhiri 11 hari berturut-turut pencatatan pembelian bersih. Beberapa saham yang banyak dilepas investor asing antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Elang Mahkota Internasional Tbk (EMTK).
Situasi ini menggambarkan kompleksitas pasar modal yang tidak hanya dipengaruhi oleh fundamental ekonomi tetapi juga oleh faktor sosial dan politik. Meskipun ada potensi gejolak dari demonstrasi buruh dan penarikan modal asing, IHSG menunjukkan daya tahan yang mengesankan. Hal ini mencerminkan optimisme sebagian investor terhadap prospek jangka panjang ekonomi Indonesia atau mungkin karena adanya kepercayaan bahwa dampak demonstrasi tidak akan terlalu signifikan. Ketahanan pasar di tengah tantangan ini dapat menjadi dorongan bagi pelaku pasar untuk tetap aktif dan inovatif, mencari peluang di tengah ketidakpastian.
