IHSG Melemah Tajam Jelang Pidato Krusial Ketua The Fed Jerome Powell

Pada penutupan perdagangan bursa saham di Jakarta, Jumat, 22 Agustus 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang kurang memuaskan. Indeks ini mencatatkan penurunan yang lebih dalam dari perkiraan, mengakhiri sesi dengan koreksi 0,4%. Kejatuhan ini memposisikan IHSG pada level 7.858,85, kehilangan 31,87 poin dari nilai sebelumnya. Aktivitas perdagangan hari itu melibatkan 40,67 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,88 juta transaksi, dengan total nilai mencapai Rp 15,96 triliun. Meskipun mayoritas saham mengalami kenaikan (380 saham), jumlah saham yang melemah juga cukup banyak (288 saham), sementara 288 saham lainnya tidak menunjukkan perubahan signifikan. Sektor konsumen non-primer memimpin penguatan dengan kenaikan 1,72%, diikuti oleh sektor utilitas (1,16%) dan industri (0,95%).

Pergerakan Pasar Menanti Pernyataan Kebijakan The Fed

Fokus utama para pelaku pasar pada hari yang krusial ini tertuju pada Simposium Ekonomi Jackson Hole yang sangat dinantikan. Seluruh perhatian diarahkan pada pidato yang akan disampaikan oleh Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Pernyataan Powell sangat diantisipasi karena dinilai memiliki kekuatan untuk menentukan arah kebijakan moneter Amerika Serikat di masa depan. Setiap frasa yang diucapkan oleh Powell akan dianalisis secara cermat oleh investor global, yang berharap mendapatkan petunjuk mengenai kecepatan dan besaran potensi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS. Sentimen pasar saat ini menunjukkan probabilitas sekitar 85% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan mendatang.

Analisis dari Goldman Sachs menunjukkan bahwa Powell kemungkinan besar tidak akan memberikan sinyal yang eksplisit mengenai pemotongan suku bunga di bulan September. Namun, diperkirakan arah pidatonya akan memberikan indikasi yang lebih jelas menuju kebijakan pelonggaran moneter. Sejak tahun 2018, setiap pidato Powell di Jackson Hole seringkali menjadi titik balik penting dalam kebijakan The Fed. Selain itu, Powell juga diharapkan membahas kondisi pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Meskipun demikian, beberapa pejabat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) masih menganggap pasar tenaga kerja cukup solid. Notulen rapat bulan Juli menunjukkan bahwa kekhawatiran inflasi masih menjadi prioritas utama dibandingkan risiko pelemahan pasar tenaga kerja. Presiden The Fed regional, seperti Beth Hammack dari Cleveland, Raphael Bostic dari Atlanta, dan Schmid di Kansas City, telah menyatakan skeptisisme mereka terhadap kebutuhan pemotongan suku bunga pada bulan September. Namun, ekonom Goldman Sachs, David Mericle, berpendapat bahwa meskipun Powell tidak akan secara tegas mengisyaratkan pemotongan, pidatonya kemungkinan akan mengindikasikan dukungannya terhadap langkah tersebut.

Sebagai seorang pengamat pasar, pelemahan IHSG menjelang pidato Jerome Powell ini menjadi pengingat yang kuat akan interkoneksi pasar keuangan global. Kebijakan moneter dari bank sentral terkemuka seperti The Fed memiliki riak yang menjangkau jauh melampaui batas negara, mempengaruhi sentimen investor dan pergerakan indeks di seluruh dunia. Penting bagi kita untuk memahami bahwa setiap kata yang keluar dari mulut seorang pemimpin bank sentral dapat menjadi katalis perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, bagi para investor, membaca sinyal-sinyal ini dengan cermat dan beradaptasi dengan potensi perubahan kebijakan adalah kunci untuk menavigasi volatilitas pasar yang tidak terhindarkan. Situasi ini juga menyoroti pentingnya diversifikasi portofolio dan strategi investasi yang responsif terhadap dinamika ekonomi makro global.