Daya Tarik Pasar Keuangan Indonesia bagi Investor Asing

Pada paruh kedua tahun 2025, pasar keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang luar biasa dalam menarik minat investor global, meskipun ada penyempitan signifikan dalam perbedaan imbal hasil antara obligasi pemerintahnya dan obligasi Treasury Amerika Serikat. Fenomena ini menarik perhatian, mengingat imbal hasil yang lebih rendah biasanya mengurangi daya tarik investasi. Namun, data menunjukkan bahwa modal asing terus mengalir masuk, menandakan kepercayaan yang teguh terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa per 19 Agustus 2025, selisih imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun dan US Treasury tenor 10 tahun menyempit menjadi hanya 205 basis poin, atau setara dengan 2,05%. Angka ini merupakan penurunan yang cukup tajam dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang mencapai 240 basis poin. Ronald D. Parluhutan, Direktur Departemen Pengelolaan Moneter & Aset Sekuritas BI, menjelaskan bahwa penyempitan ini merupakan dampak dari berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter domestik dan dinamika pasar global. Namun, dia menegaskan bahwa meskipun selisih imbal hasilnya menyempit, Indonesia masih menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan, seperti Filipina dengan 157 bps, Thailand yang bahkan mencatat minus 301 bps, dan Korea Selatan dengan minus 151 bps.

Dampak dari daya tarik ini terlihat jelas pada aliran modal asing ke pasar SBN pemerintah. Per 19 Agustus 2025, kepemilikan non-residen atas SBN mencapai Rp 952,98 triliun, meningkat dari Rp 935,71 triliun pada 31 Juli 2025. Porsi kepemilikan investor asing di pasar SBN Indonesia juga tumbuh menjadi 14,64%. Sebaliknya, kepemilikan domestik sedikit menurun menjadi Rp 5.557,63 triliun dari Rp 5.604,33 triliun pada periode yang sama, meskipun masih mendominasi dengan 85,36% dari total kepemilikan SBN sebesar Rp 6.510,64 triliun. Ronald menekankan bahwa aliran modal asing ini tetap terjaga dengan baik, meskipun terjadi penyempitan imbal hasil.

Penyempitan imbal hasil SBN tenor 10 tahun ini sejalan dengan kebijakan penurunan suku bunga acuan BI. Sepanjang tahun ini, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak empat kali, membawa BI Rate ke level 5%. Meskipun suku bunga telah diturunkan, stabilitas aliran modal asing tetap menjadi indikator positif bagi pasar keuangan Indonesia, menunjukkan bahwa fundamental ekonomi dan kepercayaan investor terhadap kebijakan moneter Indonesia masih kuat. Kondisi ini mencerminkan keberhasilan Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan daya tarik investasi di tengah gejolak global.

Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang mengesankan, terus menarik investasi asing meskipun selisih imbal hasil dengan US Treasury menyempit. Hal ini didukung oleh kebijakan moneter yang responsif dari Bank Indonesia dan posisi yang relatif menguntungkan dibandingkan negara-negara tetangga. Aliran modal yang berkelanjutan ini merupakan bukti kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang ekonomi Indonesia.