
Dewan Gubernur Bank Indonesia telah mengambil langkah berani dengan memangkas suku bunga acuan sebanyak empat kali sejak September 2024, sebuah kebijakan yang bertujuan untuk merangsang aktivitas ekonomi. Penurunan ini telah secara efektif menurunkan suku bunga di pasar uang, namun tantangan muncul karena dampak yang diharapkan pada suku bunga kredit perbankan belum terlihat secara signifikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas transmisi kebijakan moneter ke sektor riil dan perlunya langkah-langkah tambahan untuk memastikan pinjaman perbankan menjadi lebih terjangkau, yang pada gilirannya dapat mendorong investasi dan konsumsi.
Perry Warjiyo, selaku Gubernur Bank Indonesia, mengungkapkan bahwa sejak September 2024, suku bunga acuan telah dipangkas sebesar 100 basis poin. Pemotongan ini, yang mencapai level 5% pada Rapat Dewan Gubernur Agustus 2025 setelah penurunan berturut-turut sejak Juli 2025, bertujuan untuk melonggarkan kondisi moneter. Namun, Perry mengakui bahwa meskipun suku bunga pasar uang telah menunjukkan respons yang positif, langkah-langkah lanjutan masih diperlukan untuk memastikan penurunan suku bunga yang lebih luas, terutama pada suku bunga kredit.
Sebagai ilustrasi dari respons pasar uang, suku bunga IndONIA tercatat menurun dari 5,14% menjadi 4,78% per 19 Agustus 2025. Demikian pula, suku bunga Surat Berharga Indonesia (SRBI) dengan tenor 6, 9, dan 12 bulan juga mengalami penurunan. Suku bunga SRBI tenor 6 bulan turun dari 5,85% menjadi 5,28%, tenor 9 bulan dari 5,86% menjadi 5,32%, dan tenor 12 bulan dari 5,87% menjadi 5,34% pada 15 Agustus 2025. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah (SBN) tenor 2 tahun menurun dari 5,86% menjadi 5,54%, dan tenor 10 tahun dari 6,56% menjadi 6,40%. Suku bunga deposito 1 bulan juga mulai menunjukkan tren penurunan, bergerak dari 4,85% pada Juni 2025 menjadi 4,75% pada Juli 2025.
Meskipun demikian, Gubernur Perry Warjiyo menyoroti bahwa penurunan suku bunga kredit perbankan berjalan lambat. Pada Juli 2025, suku bunga kredit masih berada di angka 9,16%, menunjukkan sedikit perubahan dari bulan sebelumnya. Situasi ini mendorong BI untuk terus menyerukan agar perbankan segera menurunkan suku bunga kredit mereka. Harapannya, dengan suku bunga kredit yang lebih rendah, penyaluran pinjaman dan pembiayaan kepada masyarakat dan dunia usaha dapat meningkat, yang krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Secara kronologis, Bank Indonesia telah secara konsisten memangkas suku bunga acuannya. Dimulai dari 6,25% pada September 2024, kemudian turun menjadi 6,00% pada Januari 2025, 5,75% pada Mei 2025, 5,50% pada Juli 2025, dan puncaknya mencapai 5,25% pada periode terkini. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan BI untuk mendukung pemulihan dan penguatan perekonomian nasional melalui jalur moneter.
Pemotongan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia, meskipun telah memberikan efek positif pada pasar uang, belum sepenuhnya terefleksikan pada suku bunga kredit perbankan, sebuah aspek krusial untuk menggerakkan sektor riil dan mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih ambisius.
