
Pada hari Rabu, 20 Agustus 2025, pasar keuangan Indonesia menunjukkan respons positif yang signifikan setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan keputusan untuk memangkas suku bunga acuannya menjadi 5%. Kebijakan ini, yang merupakan penurunan suku bunga keempat kalinya sepanjang tahun ini, segera memicu kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melonjak hampir satu persen, mencapai level 7.934 pada sore hari. Langkah strategis dari BI ini bertujuan untuk merangsang aktivitas ekonomi dan menjaga stabilitas mata uang nasional di tengah proyeksi inflasi yang tetap terkendali.
Dewan Gubernur Bank Indonesia dalam rapatnya sepakat untuk menurunkan BI Rate sebagai bagian dari upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan ini selaras dengan estimasi inflasi yang stabil pada tahun 2025 dan 2026. Fokus utama BI adalah mendorong ekspansi ekonomi tanpa mengabaikan pentingnya stabilitas nilai tukar Rupiah. Keputusan ini menunjukkan komitmen BI untuk terus mengadaptasi kebijakan moneternya guna mendukung pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Data transaksi IHSG pada hari tersebut menunjukkan volume perdagangan yang masif, mencapai 32 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 14,28 triliun. Frekuensi transaksi yang tinggi, sebanyak 1,92 juta kali, mencerminkan tingginya minat investor pasca pengumuman suku bunga. Penurunan suku bunga acuan ini diharapkan dapat mengurangi biaya pinjaman bagi sektor usaha, yang pada gilirannya akan mendorong investasi dan konsumsi, serta meningkatkan kinerja perusahaan yang tercermin pada pergerakan IHSG.
Perry Warjiyo juga mengindikasikan bahwa Bank Indonesia akan terus memantau kondisi perekonomian dan siap mengambil langkah-langkah lanjutan terkait suku bunga jika diperlukan. Kebijakan penurunan suku bunga sebelumnya pada bulan Juli juga didasari oleh pertimbangan serupa, yaitu untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga inflasi tetap dalam kisaran target 2,5% plus minus 1%. Secara keseluruhan, total penurunan suku bunga oleh BI sepanjang tahun 2025 telah mencapai 100 basis poin (bps), menunjukkan arah kebijakan moneter yang akomodatif untuk mendorong geliat ekonomi domestik.
Penurunan BI Rate ini diharapkan dapat memberikan dorongan tambahan bagi sektor riil dan pasar modal. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah cenderung membuat investasi di pasar saham menjadi lebih menarik dibandingkan instrumen pendapatan tetap. Oleh karena itu, lonjakan IHSG adalah respons alami dari pasar yang mengantisipasi peningkatan laba perusahaan dan prospek ekonomi yang lebih cerah, didukung oleh kebijakan moneter yang suportif dari Bank Indonesia.
