Bank NOBU dan MNC Internasional: Dinamika Kepemilikan Saham di Tengah Isu Merger yang Tak Terealisasi

Setelah berbagai spekulasi dan rencana yang batal mengenai penggabungan kedua entitas, Bank Nationalnobu (NOBU) dan Bank MNC Internasional (BABP) kembali menjadi pusat perhatian di pasar modal. Pemegang saham utama, PT Prima Cakrawala Sentosa (PCS) dan entitas di bawah naungan MNC Group, secara mengejutkan terlibat dalam serangkaian transaksi jual beli saham. Dinamika ini menunjukkan pergeseran strategi di tengah kebutuhan perbankan untuk memperkuat modal inti.

Detail Perkembangan Terbaru dalam Kepemilikan Saham

Di penghujung bulan Agustus 2025, suasana pasar keuangan di Jakarta diwarnai dengan kabar terbaru mengenai kepemilikan saham dua bank ternama, PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) dan PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP). Para pemegang saham, yang sebelumnya telah mengakumulasi saham menjelang rumor merger yang santer beredar setahun lalu, kini memutuskan untuk melepas sebagian kepemilikan mereka.

Terpantau, PT Prima Cakrawala Sentosa (PCS) kembali menunjukkan manuver signifikan. Perusahaan ini meningkatkan kepemilikannya di Bank Nationalnobu (NOBU) dengan tambahan 747,7 juta lembar saham, yang setara dengan peningkatan 10% dari porsi awal mereka. Dengan akuisisi ini, kepemilikan PCS di NOBU melonjak dari 10,87% menjadi 20,87%. Harga rata-rata pembelian saham ini tercatat di angka Rp 749,08 per saham. Langkah ini menarik perhatian karena jumlah transaksi ini identik dengan saat PCS menjual saham NOBU kepada PT MNC Land Tbk (KPIG) pada bulan Mei 2024, yang pada saat itu menjadikan KPIG sebagai salah satu investor di NOBU.

Pada transaksi yang terjadi tahun sebelumnya, kepemilikan PCS di NOBU memang sempat tergerus, menurun dari 20,66% menjadi 10,66%. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, PCS juga mengakuisisi 10% saham PT Bank MNC Internasional (BABP) yang sebelumnya dipegang oleh KPIG. Akibatnya, kepemilikan KPIG atas saham BABP berkurang drastis dari 16,82% menjadi 6,82%.

Data dari KSEI per tanggal 26 Agustus 2025 mengungkapkan perkembangan menarik lainnya: saham BABP kini kembali diakuisisi oleh entitas MNC Group, kali ini oleh PT MNC Capital Tbk (BCAP). Sebanyak 4,45 miliar saham, atau sekitar 10%, yang setara dengan jumlah saham yang dibeli PCS dari KPIG pada Mei 2024, berpindah tangan ke BCAP. Sementara itu, pada tanggal 1 Juli 2025, NOBU mengumumkan akuisisi signifikan. Hanwha Life Insurance Co. Ltd., sebuah konglomerasi asal Korea Selatan, berhasil mengambil alih 2,9 miliar saham NOBU, atau setara dengan 40% kepemilikan. Saham-saham ini sebelumnya dimiliki oleh keluarga Riady dan perusahaan-perusahaan terafiliasi Grup Lippo, seperti PT Putera Mulia Indonesia, PT Prima Cakrawala Sentosa, PT Star Pacific Tbk, PT Inti Anugerah Pratama, PT Ciptadana Capital, PT Lenox Pasifik Investama Tbk, dan PT Multipolar Tbk.

Kisah merger antara kedua bank ini telah lama bergulir. Pada awal tahun 2023, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang telah mengumumkan bahwa BABP dan NOBU termasuk dalam daftar bank yang diwajibkan untuk melakukan merger guna memenuhi ketentuan modal inti sebesar Rp 3 triliun. Pada bulan April 2023, Bank MNC melaporkan telah mencapai modal inti Rp 3,3 triliun, sebagian besar diperoleh melalui inbreng berupa tanah dan bangunan senilai Rp 801 miliar. Di sisi lain, Bank Nobu dalam laporan keuangan kuartal I-2023 mencatatkan modal inti sebesar Rp 3 triliun. Meskipun demikian, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, kala itu menjelaskan bahwa rencana merger kedua bank bukan lagi semata-mata untuk pemenuhan modal inti, melainkan untuk memperkuat operasional dan usaha perbankan secara keseluruhan.

Perspektif Menarik dari Sebuah Skenario Bisnis

Dinamika yang terjadi antara NOBU dan BABP menghadirkan sebuah narasi bisnis yang kompleks dan penuh intrik. Pergerakan saham yang seolah-olah 'tukar guling' di antara entitas-entitas besar ini menggambarkan betapa cairnya strategi korporasi dalam menghadapi tantangan regulasi dan peluang pasar. Pembatalan merger, meskipun didorong oleh OJK untuk penguatan modal, pada akhirnya membuka jalan bagi masing-masing bank untuk mencari solusi strategis yang lebih mandiri, seperti terlihat dari akuisisi signifikan NOBU oleh Hanwha Life Insurance. Ini menunjukkan bahwa dalam dunia korporasi, rencana awal bisa berubah drastis, dan adaptasi adalah kunci untuk tetap relevan dan kompetitif. Kisah ini mengajarkan bahwa di balik setiap rumor dan rencana besar, selalu ada lapisan-lapisan kepentingan dan strategi yang lebih dalam yang menentukan arah akhir suatu entitas bisnis.