Bank Indonesia Perkuat Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Pasar

Artikel ini membahas komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tantangan ekonomi dan politik. Fokus utama adalah strategi dan instrumen yang digunakan BI untuk memastikan pergerakan mata uang sesuai fundamental pasar, serta dampaknya terhadap likuiditas dan transmisi kebijakan moneter.

Kiprah Bank Sentral: Menjaga Kedaulatan Mata Uang Nasional

Komitmen Bank Indonesia terhadap Kestabilan Mata Uang

Bank Sentral Indonesia telah menegaskan dedikasinya untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar Rupiah, meskipun dihadapkan pada ketidakpastian kondisi politik dalam negeri. Upaya ini merupakan bagian integral dari strategi makroekonomi yang lebih luas untuk menjaga daya beli masyarakat dan iklim investasi yang kondusif.

Intervensi Pasar dan Optimalisasi Kebijakan Moneter

Erwin Gunawan Hutapea, seorang pejabat senior Bank Indonesia, menjelaskan bahwa bank sentral secara aktif terlibat di pasar untuk memastikan Rupiah bergerak sejalan dengan indikator fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Ini termasuk intervensi di pasar NDF (Non-Deliverable Forward) di luar negeri, serta di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), dan SBN (Surat Berharga Negara) di pasar sekunder. Semua instrumen moneter dioptimalkan, termasuk implementasi strategi operasi moneter yang berorientasi pasar.

Transmisi Suku Bunga dan Peningkatan Likuiditas

Bank Indonesia terus menyempurnakan strategi operasi moneter pro-pasar untuk meningkatkan transmisi penurunan suku bunga BI-Rate ke pasar uang dan sektor perbankan. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas di kedua sektor tersebut, memastikan kondisi likuiditas yang memadai dan penurunan suku bunga sejalan dengan kebijakan BI. Langkah-langkah ini diwujudkan melalui lelang SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang terukur dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Pengaruh Aliran Modal Asing dan Indeks Global

Selain upaya internal, stabilitas nilai tukar Rupiah juga didukung oleh konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan terus berlanjutnya aliran modal asing. Masuknya investasi portofolio, khususnya ke instrumen SBN dan saham, serta peningkatan konversi devisa oleh eksportir, turut berkontribusi pada penguatan Rupiah. Perkembangan ini sejalan dengan pasar keuangan global yang kondusif, ditandai dengan penurunan indeks DXY dan persepsi positif investor global terhadap Indonesia, yang tercermin dari CDS (Credit Default Swap) Indonesia yang stabil dan rendah.