
Situasi ekonomi global saat ini dihadapkan pada sebuah paradoks yang menarik: meskipun inflasi sering dianggap sebagai musuh utama stabilitas ekonomi, deflasi—penurunan umum harga barang dan jasa—justru bisa menjadi ancaman yang jauh lebih serius dan sulit untuk diatasi. Jika inflasi yang tidak terkendali dapat mengikis daya beli, deflasi dapat memicu spiral negatif yang melumpuhkan pertumbuhan ekonomi, merusak nilai investasi, dan menyebabkan ketidakpastian yang meluas di pasar.
Deflasi menciptakan sebuah lingkaran setan. Saat harga-harga terus menurun, konsumen menunda pembelian dengan harapan harga akan semakin rendah di masa depan. Permintaan yang stagnan ini memaksa perusahaan untuk menurunkan harga produk mereka, yang pada gilirannya mengurangi pendapatan dan keuntungan. Untuk mengimbangi penurunan profit, perusahaan terpaksa melakukan pemangkasan biaya operasional, termasuk mengurangi upah, memberhentikan karyawan, atau bahkan menutup fasilitas produksi. Konsekuensinya, tingkat pengangguran melonjak, daya beli masyarakat menurun drastis, dan investasi menjadi tidak menarik. Ini adalah skenario yang sangat merugikan bagi semua pihak: konsumen, pekerja, bisnis, dan investor.
Ketika deflasi mulai merajalela, dampaknya pada pasar investasi sangat terasa. Nilai aset seperti saham, obligasi, dan properti cenderung anjlok. Investor mungkin memilih untuk menahan uang tunai, karena nilainya relatif meningkat seiring dengan penurunan harga-harga. Kecenderungan ini mengurangi investasi baru, memperburuk kondisi pasar modal, dan memicu penurunan lebih lanjut pada harga aset. Meskipun deflasi ringan kadang-kadang bisa menguntungkan obligasi berkualitas tinggi karena investor mencari aset yang lebih aman, deflasi yang parah akan mengikis kepercayaan pasar, meningkatkan risiko gagal bayar, dan menekan imbal hasil obligasi.
Upaya bank sentral dalam memerangi deflasi juga lebih kompleks dibandingkan inflasi. Jika pada inflasi, bank sentral dapat menaikkan suku bunga untuk mengerem pengeluaran, dalam kondisi deflasi, penurunan suku bunga menjadi instrumen utama untuk mendorong belanja dan investasi. Namun, suku bunga tidak bisa diturunkan di bawah nol secara efektif, yang membatasi kemampuan bank sentral untuk merangsang perekonomian. Bahkan dengan suku bunga mendekati nol, orang mungkin masih memilih untuk menunda pengeluaran karena prospek ekonomi yang tidak menentu.
Di Indonesia sendiri, Badan Pusat Statistik melaporkan deflasi sebesar 0,08% pada Agustus 2025. Angka ini, meskipun tampak kecil, merupakan sebuah sinyal yang perlu diwaspadai. Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang terjerumus dalam deflasi kronis menghadapi tantangan yang sangat besar untuk keluar dari resesi ekonomi. Oleh karena itu, memahami mekanisme dan dampak deflasi menjadi krusial bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat umum untuk mengambil langkah-langkah preventif yang tepat.
Pada akhirnya, deflasi bukan hanya sekadar penurunan harga, melainkan sebuah indikator fundamental masalah ekonomi yang dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang dan merusak. Membedakan dan memahami ancaman yang ditimbulkan oleh deflasi dibandingkan inflasi adalah kunci untuk mengembangkan kebijakan ekonomi yang tangguh dan menjaga stabilitas finansial dalam menghadapi gejolak pasar global.
