
PT Solusi Sinergi Digital Tbk., yang dikenal sebagai WIFI atau Surge, dikabarkan tengah mengincar akuisisi saham mayoritas Link Net, sebuah langkah korporasi besar yang tengah dinantikan. Link Net, penyedia layanan broadband terkemuka di Indonesia, saat ini sedang dalam proses divestasi oleh Axiata Group. Transaksi potensial ini mencerminkan dinamika pasar digital yang sangat aktif di kawasan Asia Tenggara, menandakan perubahan signifikan dalam kepemilikan aset infrastruktur.
Detail Berita Akuisisi yang Menggemparkan Pasar
Pada tanggal 14 Agustus 2025, berita mengenai niat PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI), atau yang dikenal sebagai Surge, untuk mengambil alih Link Net mulai beredar luas di Jakarta. Axiata Group, pemilik Link Net saat ini, dilaporkan sedang berada di tahap akhir penjualan penyedia layanan broadband utamanya di Indonesia.
Menurut laporan DealStreetAsia, nama Surge dan I Squared Capital, sebuah perusahaan investasi berbasis di Amerika Serikat, muncul sebagai calon pembeli utama. Dalam proses penjualan yang krusial ini, UBS dipercayakan sebagai penasihat keuangan. Spekulasi sebelumnya juga menyebutkan ketertarikan dari Grup Salim dan Sinar Mas, meskipun informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Jika transaksi ini terealisasi, nilainya diperkirakan akan melampaui US$1 miliar, sebuah angka yang menempatkannya sebagai salah satu akuisisi infrastruktur digital terbesar di Asia Tenggara sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pada tahun 2022, XL Axiata telah mengakuisisi Link Net dari Lippo Group dengan nilai akuisisi mencapai US$500 juta. Kini, Axiata berencana melepas seluruh kepemilikannya di Link Net, yang dipegang melalui entitas Axiata Investments (Indonesia) dan XL Smart Telecom Sejahtera (XLSmart), sebagai bagian dari strategi restrukturisasi portofolio regional mereka.
Di sisi lain, laporan keuangan terbaru menunjukkan performa cemerlang PT Solusi Sinergi Digital (WIFI). Perusahaan yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo ini mencatat kenaikan laba bersih sebesar 153,62% secara tahunan pada periode tahun 2024. Laba bersih perusahaan tercatat mencapai Rp227,77 miliar hingga akhir Juni 2025, melonjak dari Rp89,8 miliar pada periode yang sama tahun 2024.
Dari segi pendapatan, Surge membukukan angka impresif sebesar Rp513,46 miliar, meningkat 66,17% dibandingkan tahun 2023 yang sebesar Rp309 miliar. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari segmen iklan sebesar Rp232,8 miliar, diikuti oleh segmen bandwidth senilai Rp241,2 miliar, dan pendapatan sewa core sejumlah Rp31,4 miliar. Segmen colocation dan manage telco service juga turut menyumbang masing-masing Rp1,15 miliar dan Rp7,5 miliar. Selain itu, beban pokok pendapatan perusahaan menunjukkan perbaikan, dengan penurunan dari Rp129,65 miliar menjadi Rp121,1 miliar pada pertengahan tahun ini.
Posisi aset perusahaan pada akhir tahun mencapai Rp5,25 triliun, meningkat signifikan dari Rp2,9 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, liabilitas dan ekuitas WIFI masing-masing tercatat sebesar Rp3,06 triliun dan Rp2,2 triliun.
Dari perspektif seorang pengamat industri, potensi akuisisi ini menunjukkan tren konsolidasi yang kuat di sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital. Langkah ini tidak hanya akan memperkuat posisi Surge di pasar, tetapi juga menandakan perubahan besar dalam lanskap kompetitif. Dengan nilai transaksi yang fantastis, akuisisi ini akan menjadi sorotan utama, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh Asia Tenggara. Keberhasilan akuisisi ini akan sangat bergantung pada kemampuan Surge untuk mengintegrasikan operasi Link Net dan memanfaatkan sinergi yang diharapkan, terutama mengingat pertumbuhan finansial Surge yang mengesankan.
