
Mengenang Wawasan Soemitro: Kunci Menghindari Jurang Krisis Ekonomi yang Lebih Dalam
Refleksi Mendalam tentang Krisis Ekonomi 1997-1998 dan Pemikiran Soemitro Djojohadikusumo
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, mengemukakan pandangan menarik mengenai krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998. Menurut Purbaya, dampak kontraksi ekonomi saat itu kemungkinan tidak akan separah yang terjadi jika para pembuat kebijakan kala itu mengingat dan menerapkan pemikiran brilian dari ekonom senior, Soemitro Djojohadikusumo.
Pentingnya Likuiditas Primer: Warisan Intelektual Soemitro yang Terabaikan
Purbaya menjelaskan bahwa saat mempelajari disertasi Soemitro yang ditulis pada tahun 1943, ia menemukan pemahaman awal Soemitro mengenai betapa vitalnya menjaga likuiditas dalam sistem keuangan. Konsep yang kini dikenal sebagai M0, atau uang primer, telah dipahami Soemitro jauh sebelum menjadi istilah umum. Disertasi tersebut, yang meneliti kredit rakyat selama Depresi Besar 1929-1933, menyimpulkan bahwa uang dalam sistem sebenarnya cukup. Ini menunjukkan bahwa Soemitro adalah seorang pemikir moneteris sejati, pandangan yang disampaikan Purbaya dalam acara Financial Festival 2025 di Medan.
Jika Saja Pemikiran Ini Diterapkan: Meminimalkan Dampak Resesi
Purbaya menegaskan, apabila wawasan Soemitro ini dijadikan pedoman selama krisis 1997-1998, Indonesia tidak akan menghadapi kemerosotan ekonomi yang begitu parah. Dia mengungkapkan kekagumannya, menyatakan bahwa pandangannya sendiri tentang ekonomi yang dianggapnya cerdas ternyata telah didahului oleh Soemitro puluhan tahun sebelumnya. Pemikiran Soemitro, jika diaplikasikan, berpotensi mengubah lintasan krisis dan mengurangi tingkat kontraksi ekonomi yang mengerikan pada tahun 1998.
Visi Jauh ke Depan Seorang Ekonom: Kesepian Intelektual Soemitro
Purbaya juga mengamati bahwa Soemitro, pada masanya, memiliki pemikiran yang jauh melampaui kebanyakan orang sezamannya. Ia mengungkapkan rasa iba, membayangkan Soemitro hidup dalam 'kesepian' intelektual karena tidak ada rekan diskusi yang setara, seperti Chairul Tanjung di era modern. Analogi ini menggambarkan betapa langkanya pemikir sekaliber Soemitro yang memiliki visi ke depan di tengah kondisi sosial dan politik yang belum mendukung. Kesendirian dalam kejeniusan, menurut Purbaya, bukanlah pengalaman yang menyenangkan.
