
Produsen kendaraan listrik terkemuka, Tesla, membuat langkah berani dengan mengalokasikan paket saham bernilai fantastis, mencapai Rp 391,05 triliun, untuk sang CEO visioner, Elon Musk. Pemberian ini adalah yang terbesar dalam riwayat perusahaan dan dirancang untuk memastikan Musk tetap setia memimpin inovasi di Tesla. Keputusan ini muncul setelah paket kompensasi opsi saham Musk senilai Rp 825 triliun sebelumnya dibatalkan oleh putusan pengadilan pada tahun 2024, membuat Musk tanpa gaji resmi dari perusahaan sejak saat itu.
Detail Penghargaan Saham Strategis Tesla kepada Elon Musk
Pada hari Selasa, 5 Agustus 2025, dewan direksi Tesla secara resmi menyetujui \"penghargaan sementara\" berupa 96 juta lembar saham untuk Elon Musk. Kompensasi ini dapat dicairkan oleh Musk dalam kurun waktu dua tahun, kecuali jika Mahkamah Agung Delaware memulihkan paket opsi sahamnya yang lebih besar. Perusahaan mendefinisikan penghargaan ini sebagai \"langkah awal dan pembayaran itikad baik\" untuk menjaga keterlibatan orang terkaya di dunia tersebut. Saham ini akan diberikan selama Musk tetap menjabat sebagai CEO atau dalam posisi eksekutif kunci yang membidangi pengembangan produk atau operasional Tesla.
Latar belakang pemberian saham ini tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi Tesla. Perusahaan mengalami perlambatan penjualan kendaraan listrik di tahun 2025, memicu kekhawatiran di kalangan investor mengenai waktu dan energi Musk yang terbagi ke berbagai perusahaan lain. Selain memimpin Tesla, Musk juga terlibat dalam penggalangan dana miliaran dolar untuk xAI, perusahaannya yang fokus pada kecerdasan buatan, serta berhasil meluncurkan roket Starship melalui SpaceX yang membawa astronot ke Stasiun Luar Angkasa Internasional pada bulan Juni.
Musk sendiri telah menyatakan bahwa komitmennya untuk memimpin Tesla selama lima tahun ke depan sangat bergantung pada kemampuannya untuk memiliki kendali yang substansial atas perusahaan. Dalam sebuah wawancara video yang berlangsung di Forum Ekonomi Qatar pada bulan Mei, Musk menegaskan bahwa baginya, isu ini bukan sekadar masalah finansial, melainkan tentang kontrol yang adil terhadap masa depan perusahaan, terutama dalam visi jangka panjang untuk membangun robot humanoid. Dia tidak ingin posisinya terancam oleh \"aktivis politik.\"
Nilai aktual paket gaji terbaru ini mencapai sekitar Rp 391,05 triliun, berdasarkan harga penutupan saham perusahaan pada hari Jumat, 1 Agustus 2025, dengan asumsi persetujuan telah diperoleh. Namun, meskipun nilai saham yang mendasarinya sekitar Rp 480,15 triliun pada harga penutupan tersebut, Musk diwajibkan membayar Rp 102,33 triliun saat vesting. Perusahaan juga melakukan penyesuaian valuasi sekitar Rp 49,5 triliun untuk merefleksikan pembatasan pada penghargaan, termasuk periode vesting dua tahun.
Perlu dicatat bahwa Musk tidak akan menerima penghargaan saham baru ini jika perusahaan berhasil memenangkan kasus di Mahkamah Agung Delaware, yang berpotensi mengembalikan haknya atas opsi senilai Rp 825 triliun yang ia terima pada tahun 2018. Tesla sedang dalam proses banding atas keputusan Pengadilan Kanselir yang membatalkan paket gaji tersebut. Seorang hakim Delaware telah dua kali membatalkan paket gaji Musk tahun 2018, bahkan setelah pemungutan suara pemegang saham pada tahun 2024 yang menyetujui kompensasi untuk kedua kalinya. Putusan ini telah menjadi bayangan bagi dewan direksi Tesla yang berupaya keras agar Musk tetap fokus pada Tesla, di tengah kesibukan dan tanggung jawabnya di berbagai entitas lain.
Pasca pengumuman ini, saham Tesla menunjukkan kenaikan pada hari Senin. Perusahaan saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp 16.055 triliun. Data per 31 Desember menunjukkan bahwa Musk memiliki sekitar 20% saham perusahaan. Anggota dewan Tesla, Robyn Denholm dan Kathleen Wilson-Thompson, menyatakan di platform media sosial X milik Musk, “Kami yakin penghargaan ini akan mendorong Elon untuk tetap di Tesla.”
Kedua direktur tersebut, yang bertindak sebagai komite dewan khusus, juga mengisyaratkan bahwa pengembangan lebih lanjut terkait gaji Musk sedang dalam pembahasan. Mereka berencana untuk mengajukan strategi kompensasi CEO jangka panjang kepada pemungutan suara pemegang saham pada rapat umum tahunan perusahaan yang dijadwalkan pada 6 November. Para direktur mengakui bahwa waktu Musk memang terbagi antara beberapa perusahaan, sehingga insentif diperlukan untuk menjaga fokusnya pada produsen kendaraan listrik tersebut. Mereka juga menekankan bahwa \"kehilangan Elon tidak hanya berarti hilangnya bakatnya, tetapi juga hilangnya seorang pemimpin yang menjadi magnet untuk merekrut dan mempertahankan bakat di Tesla.\" Surat tersebut juga menyoroti peningkatan kapitalisasi pasar perusahaan setelah paket gaji Musk tahun 2018, yang \"mengakibatkan beban kompensasi berbasis saham sebesar $37,5 triliun kepada Tesla, tetapi menghasilkan peningkatan kapitalisasi pasar sebesar Rp 12.127,5 triliun.\"
