
Stroke merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia, menempati posisi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Kondisi ini, yang dapat disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat maupun faktor genetik, kini semakin mengancam populasi di usia muda.
Detail Berita Medis Terkini
Pada tanggal 25 Juli 2025, sebuah penelitian penting yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of Maryland di Amerika Serikat mengungkapkan hubungan signifikan antara golongan darah dan risiko stroke dini. Riset ekstensif ini menganalisis data dari 7.000 pasien stroke dan hampir 600.000 individu sehat, serta meninjau puluhan data genetik terkait stroke iskemik—jenis stroke yang paling sering terjadi.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology menunjukkan bahwa 16% individu dengan golongan darah A memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menderita stroke sebelum usia 60 tahun. Kecenderungan ini tetap relevan bahkan setelah berbagai faktor risiko lain seperti jenis kelamin, berat badan, dan kebiasaan merokok diperhitungkan. Sebaliknya, individu dengan golongan darah O, yang merupakan golongan darah paling umum, memiliki risiko stroke dini yang lebih rendah, sekitar 12%. Golongan darah B juga menunjukkan risiko stroke yang sedikit lebih tinggi, namun tidak sekuat golongan darah A, sementara golongan darah AB tidak menunjukkan dampak yang signifikan dalam konteks ini.
Dr. Steven Kittner, seorang profesor neurologi dan peneliti utama studi ini, menyatakan bahwa meskipun alasan pasti di balik hubungan antara golongan darah A dan peningkatan risiko stroke dini belum sepenuhnya terungkap, kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan faktor pembekuan darah, termasuk trombosit dan sel-sel yang melapisi pembuluh darah. Penemuan ini semakin relevan mengingat meningkatnya jumlah kasus stroke di kalangan muda, yang tidak hanya mengancam jiwa tetapi juga berpotensi menyebabkan disabilitas jangka panjang.
Data resmi menunjukkan bahwa setiap tahunnya, sekitar 800.000 orang di AS mengalami stroke, dan di Inggris, Wales, serta Irlandia Utara, tercatat lebih dari 91.000 kasus antara April 2021 hingga Maret 2022. Meskipun setengah dari populasi Inggris dan Amerika memiliki golongan darah O, dan sepertiganya golongan darah A, para peneliti menekankan bahwa peningkatan risiko ini tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Namun, hasil studi ini memperkuat pemahaman bahwa stroke bukan hanya ancaman bagi lansia, melainkan dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, sebagaimana ditegaskan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dari sudut pandang jurnalisme kesehatan, temuan ini memberikan pencerahan penting bagi masyarakat luas. Informasi ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk meningkatkan kesadaran akan faktor-faktor risiko yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Ini menggarisbawahi urgensi bagi individu, terutama mereka dengan golongan darah A, untuk lebih proaktif dalam menjaga kesehatan kardiovaskular. Pemeriksaan kesehatan rutin, adopsi gaya hidup sehat yang meliputi pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur, serta menghindari kebiasaan merokok, menjadi semakin krusial. Selain itu, temuan ini juga membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut dalam memahami mekanisme biologis di balik hubungan golongan darah dan stroke, yang pada akhirnya dapat mengarah pada strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih personal dan efektif di masa depan.
