
Pada perdagangan Senin (4/8/2025), nilai tukar rupiah mencatatkan kenaikan impresif terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menandai penguatan harian terbesar sejak akhir Juni 2025. Mata uang garuda ditutup pada posisi Rp16.385 per dolar AS, menunjukkan daya tahannya di tengah gejolak pasar global. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) mengalami pelemahan signifikan, mencerminkan respons pasar terhadap data ekonomi AS yang kurang menggembirakan. Situasi ini menyoroti dinamika kompleks antara faktor domestik dan internasional yang memengaruhi stabilitas mata uang.
Penguatan mata uang rupiah pada perdagangan hari itu sebagian besar didorong oleh melemahnya indeks dolar AS. DXY tercatat merosot 0,21% ke level 98,92 pada pukul 15.00 WIB, setelah sebelumnya pada Jumat (1/8/2025) anjlok 0,83% ke level 99,14. Penurunan ini terjadi pasca rilis data ketenagakerjaan AS yang mengecewakan. Departemen Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan penambahan hanya 73.000 pekerjaan baru di sektor non-pertanian pada Juli 2025, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memproyeksikan 110.000. Parahnya lagi, BLS merevisi turun laporan periode Mei dan Juni, yang masing-masing menjadi 19.000 dan 14.000, dari angka sebelumnya 144.000 dan 147.000. Data-data tersebut secara langsung memicu reaksi negatif dari para pelaku pasar, yang berujung pada penurunan indeks dolar AS dalam waktu singkat.
Di dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi Kuartal II-2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Meskipun Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global, beberapa analis memperkirakan adanya perlambatan laju pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut. Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan berada di kisaran 4,7%-4,8% secara tahunan. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh tekanan pada konsumsi rumah tangga akibat melemahnya daya beli masyarakat, dengan proyeksi konsumsi rumah tangga di kisaran 4,75%-4,85%.
Proyeksi ekonomi domestik yang sedikit melambat, ditambah dengan kondisi global yang tidak menentu, menjadi faktor krusial yang perlu diwaspadai. Namun, daya tahan rupiah yang ditunjukkan hari ini, di tengah tekanan dari data ekonomi AS yang kurang optimal, menunjukkan resiliensi pasar keuangan Indonesia.
