
Rupiah Tertekan, Harapan Tergantung Gejolak Dolar AS dan Kebijakan The Fed!
Fluktuasi Awal Perdagangan Rupiah dan Dolar AS
Pada sesi perdagangan hari ini, mata uang domestik Indonesia, rupiah, tercatat menunjukkan tren pelemahan di hadapan mata uang Amerika Serikat. Data terkini dari Refinitiv menunjukkan bahwa rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,06%, menempatkan posisinya di level Rp16.300 per dolar AS. Penurunan ini merupakan kelanjutan dari pelemahan yang terjadi pada penutupan perdagangan sebelumnya, di mana rupiah telah terdepresiasi sebesar 0,25%.
Indeks Dolar AS Menghadapi Tekanan Penurunan
Sementara rupiah melemah, Indeks Dolar AS (DXY) juga terpantau mengalami penurunan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat melemah 0,07% ke level 98,29. Pelemahan ini mengikuti tren pada perdagangan sebelumnya yang ditutup dengan penurunan 0,21% di level 98,22. Kondisi ini mengindikasikan adanya tekanan jual terhadap dolar AS yang dapat memberikan ruang bagi penguatan mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Dampak Faktor Eksternal Terhadap Pergerakan Rupiah
Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini tidak lepas dari pengaruh signifikan faktor-faktor eksternal, khususnya yang berasal dari Amerika Serikat. Meskipun rupiah dibuka melemah, terdapat potensi penguatan yang didorong oleh penurunan nilai dolar AS. Tekanan terhadap dolar AS timbul dari kekhawatiran investor mengenai independensi Federal Reserve, menyusul intervensi politik dari Presiden AS Donald Trump. Manuver Trump yang mengancam akan memberhentikan Gubernur The Fed, Lisa Cook, karena dugaan penyalahgunaan fasilitas kredit, meskipun tim hukum Cook menyatakan akan menempuh jalur hukum, telah menciptakan ketidakpastian. Situasi ini diperkirakan dapat mengikis kepercayaan investor terhadap kredibilitas bank sentral AS dan berpotensi mengurangi dominasi dolar AS di pasar global. Tekanan ini, pada gilirannya, dapat menjadi sentimen positif bagi mata uang rupiah.
Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed dan Prospek Rupiah
Selain isu politik, pasar keuangan juga semakin meyakini bahwa Federal Reserve akan segera melakukan pelonggaran kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga. Data dari CME FedWatch mengindikasikan peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan bulan September yang mencapai 87%, bahkan beberapa proyeksi menempatkan angka di atas 90%. Ekspektasi pelonggaran moneter yang lebih cepat dan dalam ini menyebabkan imbal hasil obligasi AS menurun, mendorong investor untuk mencari aset berisiko yang menawarkan imbal hasil lebih menarik, termasuk mata uang negara-negara berkembang. Bagi rupiah, kombinasi pelemahan dolar AS dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed merupakan katalis positif. Rupiah berpotensi mengalami peningkatan aliran modal portofolio ke pasar keuangan domestik, mengingat daya tarik aset di Indonesia yang relatif lebih tinggi dibandingkan AS. Namun, para pelaku pasar tetap harus cermat mengamati perkembangan politik di Washington serta pernyataan dari pejabat The Fed dalam beberapa waktu ke depan, karena hal tersebut dapat kembali memengaruhi sentimen pasar.
