
Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan, kali ini bergerak tipis terhadap dominasi dolar Amerika Serikat. Fluktuasi ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap kebijakan moneter global dan data ekonomi penting, yang secara signifikan memengaruhi pergerakan mata uang.
Penguatan dolar AS pada perdagangan sebelumnya menciptakan tekanan yang nyata bagi rupiah, yang kini berada di posisi krusial. Prospek masa depan rupiah akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap dinamika dolar, sekaligus ekspektasi terhadap keputusan kebijakan Federal Reserve pasca rilis data ekonomi AS yang vital.
Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat: Analisis Pasar Valuta Asing
Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan saat pembukaan perdagangan, menunjukkan pelemahan tipis terhadap dolar AS, mencapai Rp16.255 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi setelah rupiah sempat mengalami penguatan pada sesi sebelumnya, yang berhasil mematahkan tren pelemahan beruntun selama lima hari. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah sebesar 0,19% ke level 98,24 pada pukul 09.00 WIB, meskipun pada perdagangan sebelumnya DXY berhasil rebound dengan kenaikan signifikan sebesar 0,73% ke level 98,43. Dinamika ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara kekuatan kedua mata uang di pasar valuta asing.
Pelemahan rupiah hari ini sangat dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang terjadi kemarin. Kenaikan dolar AS ini merupakan koreksi setelah pelemahan tajam pekan lalu, yang dipicu oleh pernyataan Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Powell mengindikasikan adanya peningkatan kemungkinan penurunan suku bunga acuan pada September mendatang. Banyak analis memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan depan. Meskipun demikian, pasar kini mulai menyadari bahwa prospek pemangkasan suku bunga ini belum sepenuhnya pasti, terutama dengan adanya data ekonomi penting seperti Core PCE pekan ini, laporan tenaga kerja (NFP) pekan depan, serta data inflasi (CPI) Agustus yang akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed. Situasi ini mendorong aksi lindung nilai dan memperkuat kembali dolar secara luas.
Kebijakan The Fed dan Dampaknya pada Rupiah
Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan akan sangat ditentukan oleh langkah-langkah kebijakan The Federal Reserve. Pasar saat ini mencermati peluang pemangkasan suku bunga acuan, dengan alat CME FedWatch menunjukkan probabilitas penurunan setidaknya 25 basis poin pada pertemuan September sebesar 84,3%. Angka ini sedikit menurun dari sesi sebelumnya, namun masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebulan yang lalu. Keputusan The Fed akan sangat bergantung pada data ekonomi AS, terutama inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja, yang menjadi fokus utama dalam penetapan kebijakan moneter.
Selain faktor ekonomi makro, dinamika politik di Amerika Serikat juga turut menjadi perhatian pelaku pasar. Presiden Donald Trump secara terbuka mengkritik Ketua The Fed, Jerome Powell, dan dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menggantinya. Meskipun demikian, penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan bahwa proses penggantian tersebut akan memakan waktu berbulan-bulan. Ketidakpastian politik ini menambah lapisan kompleksitas pada proyeksi pergerakan dolar AS. Penguatan dolar pada perdagangan kemarin telah menciptakan tekanan bagi rupiah, dan ke depan, nilai tukar rupiah akan sangat sensitif terhadap sentimen pasar terhadap dolar, seiring dengan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dan rilis data ekonomi penting yang akan datang.
