Rupiah Bangkit: Menguat Setelah Demonstrasi, Sentuh Rp16.410/US$

Nilai tukar rupiah menunjukkan kinerja positif pada penutupan perdagangan hari Senin, berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah menghadapi tekanan signifikan pekan lalu. Penguatan ini memberikan sinyal pemulihan dan stabilitas di tengah dinamika pasar global dan domestik.

Pemulihan rupiah tidak lepas dari peran aktif berbagai faktor pendukung. Intervensi kebijakan moneter dari Bank Indonesia menjadi salah satu pilar utama yang menopang nilai tukar. Di samping itu, pergerakan dolar AS yang cenderung melemah karena sentimen pasar terkait data ekonomi Amerika Serikat juga turut berkontribusi pada apresiasi rupiah. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi yang kondusif bagi mata uang domestik untuk kembali ke jalur penguatan.

Rupiah Mengalami Apresiasi Setelah Tekanan

Pada hari Senin (1/9/2025), nilai tukar rupiah mencatatkan kenaikan yang berarti terhadap dolar AS, ditutup menguat 0,45% pada Rp16.410 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan pembalikan dari tren pelemahan yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya, di mana rupiah sempat anjlok 0,89% ke Rp16.485 per dolar AS, terpengaruh oleh demonstrasi skala besar di seluruh wilayah Indonesia. Indeks dolar AS (DXY) juga melemah 0,10% menjadi 97,66 pada pukul 15.00 WIB, menandai penurunan beruntun selama dua hari sejak Kamis (28/8/2025), turut menopang penguatan rupiah.

Penguatan rupiah disebabkan oleh dukungan internal dan eksternal. Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) secara konsisten melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan komitmen BI untuk memastikan rupiah bergerak sesuai fundamental pasar. Intervensi BI meliputi transaksi NDF di pasar off-shore dan intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Selain itu, BI juga menyediakan akses likuiditas bagi perbankan melalui berbagai instrumen seperti repo, FX swap, pembelian SBN di pasar sekunder, serta fasilitas pinjaman/pembiayaan. Langkah-langkah ini memperkuat kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas rupiah di tengah gejolak politik domestik. Dari sisi eksternal, pelemahan dolar AS terjadi karena investor bersikap wait and see menjelang rilis data tenaga kerja AS, termasuk laporan nonfarm payrolls Agustus pada Jumat (5/9/2025), yang akan menentukan besaran pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Faktor Pendukung Penguatan Rupiah

Penguatan nilai tukar rupiah pada awal minggu ini merupakan hasil dari kombinasi dukungan kebijakan domestik dan kondisi pasar global yang mendukung. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memainkan peran krusial dalam menstabilkan nilai tukar, terutama setelah periode tekanan yang dipicu oleh demonstrasi. Komitmen BI untuk menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen intervensi, seperti transaksi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN), memberikan keyakinan bagi para pelaku pasar bahwa fundamental rupiah tetap terjaga di tengah fluktuasi yang terjadi.

Di ranah internasional, pelemahan dolar AS turut berkontribusi pada apresiasi rupiah. Dolar AS mengalami tekanan karena sentimen kehati-hatian investor yang menantikan rilis data ketenagakerjaan penting dari Amerika Serikat. Data-data ini, khususnya laporan nonfarm payrolls, akan sangat berpengaruh terhadap keputusan Federal Reserve mengenai kebijakan suku bunga. Jika data menunjukkan perlambatan ekonomi, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed akan meningkat, yang pada gilirannya akan menekan dolar AS. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan ini telah mencapai 87,6%. Selain itu, isu independensi The Fed dan ketidakpastian mengenai keberlanjutan kebijakan tarif di bawah pemerintahan AS juga menambah tekanan pada dolar. Semua faktor ini secara sinergis mendukung pemulihan dan penguatan nilai tukar rupiah.