
Dalam berbagai arsip visual, seperti film dan foto-foto lama, kita dapat mengamati adanya perbedaan mencolok dalam penampilan individu dari masa lalu, khususnya di era 70-an hingga 90-an, dibandingkan dengan generasi saat ini. Salah satu aspek yang paling mudah terlihat adalah rupa para remaja yang, pada zaman tersebut, kerap terlihat lebih matang dari usia sebenarnya jika dibandingkan dengan remaja seusia mereka di era digital kontemporer.
Misalnya, perhatikanlah potret siswa SMP dari masa lampau yang sering muncul dalam pencarian daring. Kita akan menemukan sekumpulan anak-anak dengan seragam putih-biru khas SMP, yang usianya berkisar antara 12 hingga 15 tahun, namun telah memiliki kumis tipis, rambut yang cenderung tebal dan sedikit gondrong, serta postur tubuh yang cukup besar, dilengkapi celana biru ketat. Kontrasnya, remaja SMP masa kini cenderung tampil tanpa kumis atau janggut, dengan gaya rambut yang rapi, kulit terawat berkat produk perawatan, serta gaya berpakaian yang lebih modern. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: Mengapa ada perbedaan yang begitu nyata dalam kesan usia antara remaja dari masa lalu dan masa kini?
Dua alasan utama dapat menjelaskan fenomena ini. Pertama, adanya bias seleksi. Kita cenderung melihat masa lalu melalui lensa masa kini, yang dapat mengaburkan persepsi kita. Apa yang dianggap \"normal\" atau \"modis\" di satu era bisa jadi terlihat \"kuno\" atau \"aneh\" di era lain. Pada tahun 1970-an misalnya, gaya rambut gondrong dan kumis tipis pada remaja adalah hal yang lazim, mungkin karena terinspirasi oleh ikon-ikon budaya populer seperti Elvis Presley atau Rhoma Irama pada zamannya. Remaja kala itu mengadopsi tren yang sedang digandrungi, persis seperti bagaimana generasi muda saat ini mengikuti jejak para influencer di media sosial. Seandainya kita melihat kembali tren saat ini dalam beberapa tahun ke depan, kemungkinan besar kita akan menganggapnya ketinggalan zaman.
Alasan kedua terletak pada faktor biologis. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2018 oleh tim gabungan dari Yale School of Medicine dan University of South Carolina, berjudul \"Is 60 the New 50? Examining Changes in Biological Age Over the Past Two Decades,\" memberikan pandangan mendalam mengenai hal ini. Riset tersebut mengindikasikan bahwa ada pergeseran dalam usia biologis manusia dari waktu ke waktu. Faktor biologis ini, yang mencakup aspek-aspek seperti nutrisi, gaya hidup, dan kemajuan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan dan kecantikan, turut berperan dalam membentuk penampilan fisik individu, sehingga memengaruhi persepsi usia pada setiap generasi.
Sebagai penutup, perbedaan antara penampilan remaja dahulu dan sekarang adalah hasil interaksi kompleks antara faktor budaya, tren sosial, dan perubahan biologis. Persepsi kita terhadap usia dan penampilan sangat dipengaruhi oleh konteks zaman, dan seiring berjalannya waktu, definisi \"tampak muda\" atau \"tampak tua\" pun akan terus berevolusi.
