Penerbitan Obligasi Global Indonesia: Setelah Kesuksesan Kangaroo Bond, Kini Bidik Dim Sum Bond

Pemerintah Indonesia sedang memperkuat strategi pembiayaan negara dengan mengoptimalkan penerbitan surat utang di pasar global. Menyusul kesuksesan luar biasa dari Kangaroo Bond yang baru-baru ini diterbitkan, fokus kini beralih pada Dim Sum Bond, sebuah instrumen utang berdenominasi Renminbi yang akan diterbitkan di luar Tiongkok, khususnya di Hong Kong. Inisiatif ini menandai upaya berkelanjutan Indonesia untuk mendiversifikasi sumber pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta memperluas jangkauan investor.

Novi Puspita Wardani, selaku Plt. Direktur Surat Utang Negara di Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, menyatakan bahwa penerbitan Dim Sum Bond merupakan prioritas berikutnya dalam agenda pemerintah. Keberhasilan Kangaroo Bond, yang setelmennya dilakukan pada 14 Agustus 2025 setelah penerbitan perdana pada 7 Agustus 2025, memberikan momentum positif. Langkah strategis ini diharapkan dapat memperdalam keterlibatan investor di pasar Asia dan memperkuat portofolio pembiayaan APBN.

Meskipun tanggal spesifik untuk penerbitan Dim Sum Bond belum diumumkan, pemerintah menegaskan bahwa waktu pelaksanaannya akan sangat bergantung pada dinamika pasar obligasi global dan kebutuhan pembiayaan APBN yang ada. Pemerintah berkomitmen untuk mengadopsi pendekatan pembiayaan yang hati-hati, fleksibel, dan terukur. Ini mencakup pemilihan waktu yang optimal, jenis instrumen yang tepat, serta komposisi mata uang yang seimbang guna menjaga stabilitas dan efisiensi.

Sebagai gambaran keberhasilan sebelumnya, penerbitan Kangaroo Bond, yang berdenominasi Dolar Australia, mendapatkan respons yang sangat antusias dari investor internasional. Permintaan untuk obligasi ini mencapai AUD 8 miliar, melebihi 10 kali lipat dari total nilai setelmen sebesar AUD 800 juta. Mayoritas pembeli Kangaroo Bond adalah investor dari Australia sendiri, dengan kontribusi sekitar 34% untuk tenor 5 tahun dan 33% untuk tenor 10 tahun. Sisanya tersebar di Asia, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Inggris.

Tingginya minat ini memungkinkan Pemerintah Indonesia untuk menetapkan tingkat imbal hasil yang sangat kompetitif: 4,427% untuk tenor 5 tahun dan 5,380% untuk tenor 10 tahun. Transaksi ini dilakukan di bawah program Australian Medium-Term Notes (AMTN), dan dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk pembiayaan APBN tahun 2025. Obligasi ini juga menerima peringkat kredit yang kuat dari lembaga-lembaga terkemuka, yaitu Baa2 dari Moody's, serta BBB dari Standard & Poor's dan Fitch, yang mencerminkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Upaya pemerintah dalam menerbitkan berbagai jenis obligasi di pasar internasional menunjukkan komitmen kuat untuk memperkuat fondasi keuangan negara. Dengan melanjutkan strategi yang terbukti sukses, Indonesia tidak hanya mengamankan pembiayaan yang diperlukan tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pemain penting di pasar modal global.