
Dalam sebuah langkah strategis untuk memperkuat industri semikonduktor domestik dan menanggapi tantangan global, pemerintah Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Presiden Trump, telah mengakuisisi 10% saham di perusahaan raksasa teknologi, Intel. Investasi senilai US$8,9 miliar, atau sekitar Rp 144 triliun, ini mencerminkan upaya Washington untuk menjaga daya saing di sektor chip yang sangat penting, terutama di tengah persaingan ketat dari pemain global seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Keputusan ini muncul saat Intel berupaya keras untuk mengejar ketertinggalan teknologi, khususnya dalam pengembangan chip yang relevan dengan kecerdasan buatan, dan merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk memastikan rantai pasok teknologi esensial tetap berada di dalam negeri.
Intel, yang selama ini menjadi salah satu perusahaan teknologi terkemuka di AS, menghadapi tekanan signifikan akibat pergeseran lanskap industri chip. Munculnya teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah tuntutan pasar, dan inovasi dari pesaing seperti TSMC, yang memasok chip untuk raksasa seperti Apple, Nvidia, dan AMD, membuat posisi Intel sedikit terancam. Meskipun TSMC dan Samsung juga memiliki fasilitas produksi di AS, Intel adalah satu-satunya perusahaan Amerika yang mampu memproduksi chip tercepat di dalam negeri. Kondisi ini mendorong pemerintah AS untuk melakukan intervensi, memastikan bahwa kapabilitas produksi chip canggih tetap berpusat di Amerika.
Investasi yang diumumkan oleh Menteri Perdagangan Howard Lutnick pada hari Jumat, 22 Agustus, merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mendukung perusahaan-perusahaan domestik yang strategis. Pemerintah membeli 433,3 juta lembar saham Intel dengan harga US$20,47 per lembar. Harga ini, yang dikatakan sebagai diskon dari nilai pasar saat ini, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengamankan posisi di perusahaan tersebut. Dana sebesar US$5,7 miliar berasal dari hibah yang telah disetujui di bawah Undang-Undang CHIPS, sementara US$3,2 miliar lainnya berasal dari program pembuatan chip yang aman.
Langkah ini disambut baik oleh Presiden Trump, yang menyebutnya sebagai “Kesepakatan yang luar biasa” bagi AS dan Intel. Ia menekankan bahwa meskipun pemerintah tidak mengeluarkan biaya awal untuk akuisisi ini, saham tersebut kini bernilai sekitar US$11 miliar. Selain kepemilikan saham, pemerintah juga memiliki opsi untuk membeli tambahan 5% saham Intel di masa depan, terutama jika perusahaan tersebut kehilangan kendali mayoritas atas bisnis pengecorannya. Meski demikian, Intel menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan memiliki kursi di dewan direksi atau hak tata kelola lainnya, menunjukkan bahwa investasi ini lebih berfokus pada dukungan finansial dan strategis daripada kontrol operasional.
CEO Intel, Lip-Bu Tan, menggarisbawahi komitmen perusahaan untuk memproduksi teknologi tercanggih di AS, sejalan dengan visi pemerintah untuk memastikan keamanan dan kemandirian dalam produksi semikonduktor. Kebijakan ini menandai perubahan signifikan dalam pendekatan industri AS, dengan pemerintah mengambil peran yang lebih proaktif di sektor swasta. Howard Lutnick menjelaskan bahwa pemerintah mengambil kepemilikan saham sebagai imbalan atas dana Undang-Undang CHIPS yang diberikan, menegaskan bahwa mereka mengharapkan imbal hasil atas investasi tersebut. Ini mencerminkan upaya pemerintah untuk memastikan bahwa dukungan finansial tidak hanya membantu perusahaan, tetapi juga memberikan keuntungan strategis bagi negara, memperkuat posisi Amerika dalam persaingan teknologi global.
