




Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang ambisius untuk tahun 2026, yaitu sebesar 5,4% (YoY), meningkat dari proyeksi 5,2% (YoY) di tahun 2025. Target ini, meskipun dinilai realistis, memerlukan kerja keras mengingat tren pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dekade terakhir yang berkisar antara 4,8% hingga 5,3%. Pasar keuangan merespons optimisme ini dengan potensi geliat investasi, terutama di instrumen berisiko seperti obligasi dan reksa dana.
Analisis Prospek Pasar Keuangan dan Strategi Investasi
Pada hari Selasa, 26 Agustus 2025, dalam acara 'Power Lunch' CNBC Indonesia, Direktur Utama Recapital Asset Management (RCAM), Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa, memaparkan pandangannya mengenai prospek pasar keuangan di tengah rilis Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Beliau menekankan beberapa faktor kunci yang dapat mendorong laju perekonomian Indonesia.
Pertama, pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia dianggap krusial untuk mendorong investasi. Suku bunga yang lebih rendah cenderung membuat instrumen berisiko seperti obligasi dan reksa dana menjadi lebih menarik bagi investor. Kedua, peningkatan daya beli masyarakat melalui bantuan sosial juga diharapkan dapat memicu konsumsi domestik, yang merupakan komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi. Ketiga, dorongan investasi melalui insentif fiskal akan menjadi magnet bagi penanaman modal. Terakhir, perluasan pasar ekspor melalui pemanfaatan perjanjian dagang, termasuk dengan Uni Eropa, akan membuka peluang baru bagi produk-produk Indonesia di kancah global.
Dari sisi manajemen aset, Recapital AM telah menunjukkan kinerja yang impresif, dengan total aset kelolaan (AUM) reksa dana yang telah mencapai Rp 535 triliun per Juli 2025. Pencapaian ini mengindikasikan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik. Penurunan suku bunga juga diyakini akan mendorong lebih banyak investor untuk mengalihkan dana ke aset berisiko. Lebih lanjut, Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat menembus angka 8.000 pada akhir tahun 2025, didukung oleh lonjakan jumlah investor yang saat ini telah mencapai 17 juta orang.
Diskusi yang mendalam ini memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana pelaku pasar dan manajemen aset menyikapi arah kebijakan ekonomi pemerintah serta potensi pertumbuhan investasi di Indonesia.
Sebagai seorang pengamat pasar, saya terinspirasi oleh semangat optimisme yang terpancar dari para pelaku pasar keuangan Indonesia. Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang solid, ditambah dengan strategi-strategi konkret seperti penurunan suku bunga dan peningkatan investasi, menunjukkan arah yang positif. Data mengenai peningkatan AUM reksa dana dan jumlah investor adalah bukti nyata bahwa minat masyarakat terhadap instrumen investasi semakin besar. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi global dan memastikan kebijakan pemerintah dapat diimplementasikan secara efektif. Penting bagi kita untuk terus memantau dinamika ini dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, karena setiap langkah kecil hari ini akan menentukan masa depan perekonomian kita.
