
Rata-rata, pria memiliki postur tubuh yang lebih menjulang dibandingkan wanita. Selisih ketinggian ini, yang mencapai sekitar 13 sentimeter, telah menjadi fenomena global yang menarik perhatian para ilmuwan. Meskipun demikian, penjelasan ilmiah komprehensif mengenai mengapa perbedaan ini terjadi masih terus diteliti. Petunjuk awal dari penelitian genetik dan hormonal mulai membuka tabir misteri ini, menyoroti peran kompleks gen pada kromosom seks dan autosom, serta pengaruh berbagai hormon.
Melihat Lebih Dekat Perbedaan Tinggi Badan Antara Pria dan Wanita
Di jantung kota Jakarta, pada hari Rabu, 9 Juli 2025, sebuah artikel di Live Science menyoroti sebuah fakta biologis yang seringkali kita anggap remeh: mengapa rata-rata pria lebih tinggi dari wanita? Penjelasan mengenai fenomena ini melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik dan hormonal.
Tinggi badan merupakan sifat poligenik, artinya dipengaruhi oleh banyak sekali gen. Alexander Berry, seorang ilmuwan bioinformatika dari Geisinger College of Health Sciences, Pennsylvania, menjelaskan bahwa ribuan gen di seluruh genom berkontribusi pada penentuan tinggi seseorang. Studi pada tahun 2022 yang diterbitkan di jurnal Nature bahkan mengidentifikasi 12.111 lokasi dalam genom yang secara signifikan berkaitan dengan tinggi badan. Salah satu gen kunci yang banyak diteliti adalah SHOX, yang terletak pada kromosom X dan Y. Gen ini diperkirakan menyumbang sekitar 25% dari perbedaan tinggi rata-rata antara kedua jenis kelamin. Mutasi pada gen SHOX dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan tulang, seperti kasus Léri-Weill dyschondrosteosis yang menyebabkan postur tubuh jauh lebih pendek.
Penelitian yang dipublikasikan pada Mei 2025 di jurnal PNAS oleh Berry dan timnya, melibatkan analisis data dari lebih dari 928 ribu individu, termasuk mereka dengan jumlah kromosom seks yang tidak biasa (seperti XXX atau XXY). Temuan mereka mengungkapkan bahwa individu dengan kromosom Y tambahan cenderung lebih tinggi daripada mereka yang memiliki kromosom X tambahan. Ini menunjukkan bahwa pria, dengan dua salinan aktif gen SHOX (satu dari kromosom X dan satu dari Y), memiliki ekspresi gen SHOX yang lebih tinggi dibandingkan wanita (XX) yang hanya memiliki satu kromosom X aktif secara penuh.
Berry menambahkan bahwa bukan hanya gen SHOX yang berperan. Hormon juga memainkan peran krusial. Meskipun testosteron, yang kadarnya lebih tinggi pada pria, berkontribusi pada karakteristik maskulin, hormon pertumbuhan manusia (HGH) dan insulin-like growth factor 1 (IGF-1) juga penting. Kedua hormon ini memuncak selama masa pubertas dan mendorong pertumbuhan. Menariknya, Holly Dunsworth, seorang profesor antropologi di University of Rhode Island, menyoroti peran utama estrogen dalam pertumbuhan tulang panjang. Dia menyebut estrogen sebagai 'aktor utama' dalam narasi tinggi badan.
Selain faktor internal, lingkungan juga memiliki pengaruh signifikan. Tinggi badan seseorang hanya sekitar 80% ditentukan oleh genetik, sisanya 20% dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti nutrisi dan kondisi iklim. Interaksi kompleks antara semua faktor ini menjadikan penelitian tentang perbedaan tinggi badan antara pria dan wanita tetap menjadi area studi yang menarik dan berkelanjutan. Berry optimis bahwa studi ekspresi gen berskala besar di masa depan akan mengungkapkan lebih banyak lagi tentang mekanisme yang mendasari perbedaan tinggi badan individu, bahkan di antara mereka yang memiliki komposisi kromosom serupa.
Dari perspektif seorang pengamat, penelitian ini menggarisbawahi keajaiban dan kompleksitas biologi manusia. Setiap individu adalah hasil dari orkestrasi genetik dan lingkungan yang unik. Artikel ini tidak hanya memberikan pemahaman ilmiah tentang perbedaan fisik, tetapi juga mengingatkan kita bahwa variasi adalah bagian alami dari kehidupan. Ini adalah ajakan untuk merayakan keberagaman dan terus mengeksplorasi misteri tubuh manusia dengan rasa ingin tahu yang tak terbatas.
