
Selama beberapa dekade, kalangan ahli Mesir Kuno meyakini bahwa setelah wafatnya Firaun wanita Hatshepsut, keponakannya dengan sengaja merusak seluruh patungnya untuk menghapus jejaknya dari ingatan publik, mungkin karena alasan dendam atau jenis kelaminnya. Namun, penelitian terbaru menghadirkan sudut pandang yang berbeda, menunjukkan bahwa motif di balik penghancuran tersebut jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.
Sebuah studi mutakhir mengungkapkan bahwa kerusakan pada patung-patung Hatshepsut bukanlah tindakan penghapusan atau pembalasan, melainkan bagian dari praktik \"deaktivasi ritual\" yang lazim dilakukan pada era Mesir Kuno. Jun Yi Wong, seorang kandidat doktor Egiptologi dari Universitas Toronto, menganalisis catatan arsip dari penemuan patung-patung yang rusak di Deir el-Bahri. Ia menemukan bahwa patung-patung tersebut tidak dirusak pada bagian wajah atau prasastinya, melainkan patah pada titik-titik lemah seperti leher, pinggang, dan kaki. Pola kerusakan ini konsisten dengan cara patung firaun lain \"dinonaktifkan\" secara ritual, dengan tujuan menghilangkan kekuatan supernatural yang diyakini dimiliki oleh patung tersebut. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Mesir kuno memandang patung kerajaan sebagai entitas yang hidup dan penuh kekuatan, sehingga perlu \"dinetralkan\" setelah wafatnya penguasa.
Meskipun patung-patungnya di Deir el-Bahri dinonaktifkan secara normal, penghapusan gambar dan namanya di monumen lain memang menunjukkan adanya penganiayaan politik setelah kematiannya, yang diprakarsai oleh Thutmose III. Namun, hal ini tidak mengindikasikan kebencian pribadi Thutmose III terhadap Hatshepsut. Para ahli kini berpendapat bahwa tindakan penganiayaan tersebut lebih didorong oleh faktor ritualistik dan praktis, seperti kekhawatiran akan stabilitas politik atau dukungan terhadap pemerintahan Thutmose III, daripada permusuhan personal. Dengan demikian, terungkaplah bahwa praktik penonaktifan patung merupakan bagian integral dari kepercayaan dan ritual Mesir kuno yang lebih luas, memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang warisan peradaban tersebut.
Penemuan ini mengingatkan kita bahwa sejarah seringkali lebih kompleks daripada narasi tunggal yang kita warisi. Dengan terus menggali dan meninjau kembali asumsi lama, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan akurat tentang masa lalu. Ini adalah pelajaran berharga tentang pentingnya penelitian berkelanjutan dan keterbukaan pikiran dalam mengeksplorasi warisan budaya yang kaya.
