
Emas telah lama menjadi pilihan utama sebagai aset yang kokoh dan dapat diandalkan, terutama saat ketidakpastian ekonomi melanda. Survei terbaru dari HSBC menunjukkan bahwa alokasi emas di kalangan investor kaya meningkat signifikan, menunjukkan tren global menuju aset yang stabil. Kecemasan akan perang dagang dan ketegangan geopolitik semakin memperkuat daya tarik emas sebagai 'sahabat ketidakpastian', demikian disampaikan oleh James Steel, analis logam mulia terkemuka.
Tradisi berinvestasi pada emas fisik sudah mengakar kuat di Asia dan Timur Tengah, didorong oleh kekhawatiran terhadap gejolak mata uang, inflasi yang tak terkendali, serta nilai-nilai budaya yang menganggap emas sebagai simbol kemakmuran. Bagi para investor yang berorientasi jangka panjang, menyimpan emas dalam bentuk fisik menawarkan daya tarik tersendiri.
Ada berbagai opsi untuk menyimpan emas. Salah satu yang paling umum adalah menyewa brankas di bank, meskipun tentu saja ada biaya terkait. Stephen Jury dari J.P. Morgan Private Bank mengungkapkan bahwa hanya klien dengan kepemilikan emas yang sangat besar, mungkin mencapai US$100 juta, yang dapat mengakses brankas bank mereka di London. Namun, beberapa investor enggan menyimpan emas di bank karena khawatir akan aksesibilitasnya saat krisis global.
Beberapa klien lebih memilih untuk menyimpan emas batangan mereka sendiri. Ada kisah menarik tentang seorang klien yang berencana mengubur emas di kebunnya, meskipun bank tidak menyarankan penyimpanan di rumah karena risiko keamanan yang tinggi. Sebagai alternatif, Ludwig Karl, COO Swiss Gold Safe, menjelaskan bahwa investor yang menginginkan keamanan maksimum dapat memanfaatkan bunker militer yang telah diubah menjadi brankas, seperti dua fasilitas yang mereka miliki di Pegunungan Alpen Swiss.
Banyak klien memilih untuk mendiversifikasi lokasi penyimpanan emas mereka di berbagai negara, termasuk Singapura. Beberapa bahkan melakukan audit independen atas emas yang mereka simpan di Swiss Gold Safe. Mayoritas klien ini berasal dari negara maju, namun memiliki ketidakpercayaan terhadap pemerintah atau sistem keuangan, sehingga mereka mencari 'rencana cadangan' dengan menyimpan logam mulia di luar sistem perbankan tradisional, di negara yang netral dan aman.
James Steel menekankan bahwa untuk menarik lebih banyak investor beralih ke emas sebagai aset pelindung nilai, perlu ada kehati-hatian yang lebih besar. Ia berpendapat, jika kita melihat geopolitik dan ketidakpastian kebijakan ekonomi sebagai pendorong, maka 'termometer risiko geopolitik' harus lebih tinggi dari kondisi saat ini.
