
Studi yang baru-baru ini dilakukan oleh Milieu Insight menunjukkan pergeseran signifikan dalam preferensi perjalanan wisatawan dari Asia Tenggara. Data survei, yang melibatkan 6.000 responden dari negara-negara seperti Singapura, Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia antara 22 Mei hingga 10 Juni 2025, mengungkapkan bahwa mayoritas, yaitu hampir 80% responden, kini merasa Amerika Serikat tidak lagi menjadi destinasi menarik untuk berlibur. Penurunan minat ini terlihat jelas, dengan 24% dari total responden menyatakan bahwa ketertarikan mereka untuk mengunjungi AS telah berkurang dalam enam bulan terakhir.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penurunan daya tarik ini ternyata bukan hanya masalah biaya yang seringkali menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan perjalanan. Analisis mendalam dari survei tersebut menyoroti tiga alasan utama yang lebih dominan: kekhawatiran akan adanya diskriminasi, dampak dari kebijakan yang terkait dengan mantan presiden Donald Trump, dan isu yang berkaitan dengan kekerasan bersenjata. Aspek-aspek sosial dan keamanan ini tampaknya memiliki bobot yang lebih besar dalam mempengaruhi keputusan wisatawan Asia Tenggara dibandingkan dengan pertimbangan finansial.
Kesimpulannya, daya tarik Amerika Serikat sebagai tujuan wisata global tampaknya sedang menghadapi tantangan, terutama dari pasar Asia Tenggara. Persepsi negatif yang terbentuk akibat isu diskriminasi, kebijakan politik tertentu, dan masalah keamanan domestik telah menggeser fokus wisatawan dari sekadar biaya perjalanan. Ini menandakan perlunya pemahaman yang lebih dalam mengenai faktor-faktor non-ekonomi yang memengaruhi industri pariwisata, serta upaya-upaya yang lebih terarah untuk membangun kembali citra positif dan rasa aman bagi pengunjung internasional. Mengatasi kekhawatiran ini dapat membuka kembali pintu bagi pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan.
