Mengapa Masyarakat Berpenghasilan Rendah Lebih Memilih Rokok daripada Kebutuhan Pokok?

Artikel ini mengupas fenomena kompleks di mana masyarakat berpenghasilan rendah cenderung memilih untuk membeli rokok, bahkan saat kebutuhan dasar seperti makanan bergizi belum terpenuhi. Berdasarkan analisis para ahli dan studi kasus, tulisan ini menyoroti berbagai faktor pendorong di balik kebiasaan ini, mulai dari aspek psikologis, pengaruh lingkungan sosial, hingga taktik pemasaran agresif oleh industri tembakau.

Prioritas yang Terbalik: Rokok Mengalahkan Kebutuhan Dasar

Pilihan Konsumsi yang Kontradiktif di Tengah Keterbatasan Ekonomi

Meskipun harga rokok setara dengan biaya untuk membeli makanan bergizi seperti telur, sayuran, dan beras, masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia, dan di belahan dunia lain, seringkali tetap memprioritaskan pembelian tembakau. Sebuah ironi yang memperlihatkan adanya pola konsumsi yang tidak sejalan dengan prinsip dasar pemenuhan kebutuhan primer. Perilaku ini memicu pertanyaan mendalam mengenai motivasi di baliknya.

Pengaruh Lingkungan dan Akses Dukungan

Profesor Keith Humphreys dari Universitas Stanford menjelaskan bahwa lingkungan sosial berperan besar dalam kebiasaan merokok. Individu dengan penghasilan tinggi memiliki akses lebih mudah ke lingkungan yang mendukung upaya berhenti merokok, seperti dukungan kelompok atau terapi. Sebaliknya, masyarakat berpenghasilan rendah cenderung terjebak dalam lingkungan yang kurang suportif, sehingga sulit bagi mereka untuk melepaskan diri dari kebiasaan ini dan menjadi semakin ketergantungan.

Rokok sebagai Pelarian dari Beban Mental

Humphreys juga mengaitkan kebiasaan merokok dengan isu kesehatan mental, khususnya depresi. Merokok memicu pelepasan dopamin yang memberikan efek menyenangkan, menenangkan, atau bahkan euforia sementara. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, rokok bisa menjadi salah satu cara termurah dan tercepat untuk mendapatkan kebahagiaan atau pelarian dari tekanan hidup dan depresi. Berbeda dengan kelompok berpenghasilan tinggi yang memiliki sumber daya untuk mengakses perawatan kesehatan mental yang lebih memadai.

Strategi Pemasaran Industri Tembakau

Megan Sandel dan Renée Boynton-Jarrett menyoroti peran industri rokok yang "tidak bermoral" dalam artikel mereka di CNN International. Mereka berpendapat bahwa selain faktor lingkungan dan ekonomi, strategi pemasaran agresif perusahaan tembakau secara khusus menargetkan komunitas berpenghasilan rendah. Industri ini menyebarkan lebih banyak iklan dan produk di area-area tersebut, serta menargetkan kaum muda dari latar belakang sosial ekonomi yang kurang beruntung, memperparah masalah konsumsi rokok.

Psikologi Konsumsi dan Pencarian Kemewahan

Perspektif psikologis juga menawarkan penjelasan, seperti yang dipaparkan oleh Morgan Housel dalam bukunya 'The Psychology of Money'. Housel mengamati bahwa masyarakat berpenghasilan rendah cenderung mengalokasikan lebih banyak uang untuk hal-hal seperti lotre dibandingkan kelompok berpenghasilan tinggi. Hal ini terjadi karena lotre dianggap sebagai satu-satunya kesempatan mereka untuk merasakan 'kemewahan' atau mengubah nasib. Fenomena serupa dapat diterapkan pada kebiasaan merokok; rokok bisa menjadi 'kemewahan' yang terjangkau bagi mereka, memberikan kepuasan instan yang sulit didapatkan dari hal lain dalam keterbatasan ekonomi.