
Epilepsi, yang seringkali salah diinterpretasikan sebagai kondisi mistis atau akibat ilmu hitam, sejatinya merupakan sebuah gangguan neurologis pada otak yang tidak boleh diabaikan. Kondisi ini terjadi ketika aktivitas listrik di otak tidak berjalan normal, menyebabkan benturan impuls listrik yang berujung pada kejang. Dr. Aris Catur Bintoro, seorang spesialis saraf, menjelaskan bahwa kesalahpahaman dan stereotip di masyarakat telah memicu berbagai mitos mengenai epilepsi, padahal ini adalah penyakit kronis universal yang bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang gender atau status sosial.
Perlu ditekankan bahwa epilepsi bukanlah penyakit menular, sehingga anggapan bahwa dapat ditularkan melalui air liur adalah keliru. Stigma negatif terhadap penderita epilepsi sangat memengaruhi kualitas pelayanan dan dukungan yang seharusnya mereka terima. Meskipun epilepsi paling sering didiagnosis pada anak-anak, mayoritas kasus kejang pada usia ini dapat dikendalikan secara efektif dengan pengobatan yang tepat dan rutin. Gejala kejang dapat bervariasi, dari kejang umum yang memengaruhi seluruh tubuh seperti kejang tonik-klonik (gerakan menghentak, lidah tergigit, sulit bernapas), kejang absans (tatapan kosong, hilang kesadaran), hingga kejang atonik (tubuh lemas, pingsan). Sementara itu, kejang parsial hanya memengaruhi sebagian tubuh, seperti kejang parsial sederhana (kejang lokal tanpa penurunan kesadaran) atau kejang parsial kompleks (penurunan kesadaran dengan gerakan berulang seperti menggosok tangan atau mengunyah).
Penting untuk diingat bahwa tidak semua kejang adalah indikasi epilepsi. Proses diagnosis biasanya dimulai dengan wawancara medis mendalam, terutama dengan orang di sekitar penderita yang seringkali tidak mengingat episode kejang mereka. Selanjutnya, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti elektroensefalografi (EEG) untuk merekam aktivitas listrik otak, MRI dan CT scan untuk mendeteksi kelainan struktural di otak, serta tes darah untuk mengidentifikasi penyebab lain. Pengobatan epilepsi bersifat multifaset, mencakup pemberian obat-obatan, terapi, pengaturan diet, hingga prosedur bedah, semuanya disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien.
Mengatasi kesalahpahaman tentang epilepsi adalah langkah krusial untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi para penderitanya. Dengan pengetahuan yang akurat dan empati, kita dapat membantu menghilangkan stigma, mendorong diagnosis dini, dan memastikan bahwa setiap individu yang hidup dengan epilepsi mendapatkan perawatan serta kesempatan yang sama untuk menjalani kehidupan yang bermakna.
